
Ilustrasi oleh Gigin Hilal Ahmadi
Balada untuk Bob
Kami mendengar suaramu, Bob.
Kau memekik dengan baik.
Sekarang kami jadi tahu, bebanmu bukan hanya puisi.
Lagu-lagumu datang ketika dunia senyap
dan di antara jeda-jeda berita buruk, nyanyianmu
membentuk jalan bagi kami melewati lorong penuh debu sejarah.
Kami melihatmu berdiri di depan mikrofon
seperti patung api: menangis dengan serak
yang membuat waktu berhenti.
Dan kami, cuma anak-anak biasa
yang mengenangnya dalam ponsel
lalu melupakannya esok pagi.
Tapi tetap saja, kami tak bisa lupa
kau pernah hidup di tengah bising
yang memekakkan telinga, merambat ke dada jadi ngilu:
Saat-saat tragedi Vietnam, seorang gadis berlari
dengan tubuh melepuh oleh napalm
kami saksikan saat sarapan.
Kemudian Malcolm, berdiri di atas mimbar
yang kalimatnya kau rekam dalam balada–
masih kami dengar di ruang kelas dan unjuk rasa.
Para pemuda yang kau temui itu
mengguratkan sajak di dada kekasihnya
sebab revolusi tak selalu punya bentuk
sementara Cinta…
butuh sesuatu yang bisa menerimanya.
Kau pernah bertanya:
“how many times must the cannonballs fly
before they’re forever banned?”
Tapi dunia hanya diam, masih diam hingga kini
tak ada jawaban yang datang
sekalipun dari angin yang berembus.
Dan kami terus melihat
ibu yang menggali kubur
sembari menidurkan bayinya
di sebalik granat.
Beruntung, di sela itu
suaramu kembali meski
bersama hujan yang turunnya terlambat
mengingatkan kami
bahwa zaman yang kami tinggali
jauh lebih sunyi
dari yang pernah kau takutkan.
Kami tak tahu,
apa yang masih bisa diselamatkan.
Tapi kami akan tetap bernyanyi
sebagai pertahanan terakhir yang tersisa.
Kami akan tetap berirama
meski dalam kehancuran,
itu cukup–
karena bahkan reruntuhan pun
bisa jadi altar, tempat satu lagu dinyanyikan
sebelum langit benar-benar jatuh.
2024-2026
Pelajaran Pertama Tentang Kekalahan
Bau getah patahan puring itu masih tertinggal, kawan. Mengendap pada pagar-pagar bambu yang perlahan merapuh.
Di dunia yang batasnya hanya sepanjang lompatan jangkrik itu, batu bertukar batu, tawa bertumbuk debu.
Apakah kau ingat? Dua pasang telapak dekil kita pernah berlumur lumpur, memendam biji kelereng di tanah galian.
Tatapanmu runcing menakar bidikan, sementara jempolku melenting di balik gundu andalan; hari itu, tak ada yang sudi menjadi pecundang.
Hingga azan datang bagai kepalan yang mengetuk pintu-pintu waktu, menyudahi babak yang tegang, membawa kita ke jalan pulang.
Kau tahu, aku masih sering kembali ke sana, mengais dengung jangkrik yang dulu melesat ke semak-semak.
Aku lupa saat kapan lempung di jemari kita mengering jadi daki? Dan biji kelereng itu, ah, tak pernah lagi kita cari.
Jemariku menyisir liang galian yang kini tersumbat, mengurai akar beluntas yang menjalar ke rumpun talas.
Di rimbun daunnya, kulihat bayangmu menyelinap, begitu tipis, begitu lindap, seperti embun yang tergelincir di pagi hari.
Kita tahu waktu tak menyediakan jalan putar untuk kaki telanjang kita kembali belajar gemetar.
Sebab sekarang, dunia kita sudah ditimbun batako, dan kau, entah di mana, aku belum tahu siapa di antara kita yang paling jago.
2026
Setelah Kata-kata
Bapak yang tegas dengan wajah sekeras cadas
kuingin memelukmu, masa kecilmu yang bau batu.
Namun kutahu, urat-urat di tanganmu ialah sungai kering
yang tak membuatku bisa berenang setenang ikan.
Lain dengan ibu yang menanam pagi di telapakku,
menyabit cemas hingga rebah, menjemur hari di halaman.
Aku tumbuh di sisinya, seperti padi dalam dekap bumi.
Lalu rumah tinggal semakin jauh di belakang,
yang tak terucap beralih ke benda-benda:
Toples jajanan kering
gula-gula mengilap;
sisa hari raya yang mengeras dalam kaca.
Jam dinding menanak sepi
di balik tudung, nasi mengembun,
Lapar telah pulang.
Di saka kayu, garis tinggi badan bertahun
jadi hutan tipis dari pensil tumpul
aku menua di sana.
2025-2026
Hal-hal yang Tumbuh Tanpa Kita
Sebelum pohon itu tertanam
kelingking kita pernah saling lilit.
“Sepuluh tahun lagi,” katamu.
Cinta kita akan sah,
tak melulu susah payah.
Senja tersangkut di pucuk-pucuk daun,
dari punggung bukit, kabut turun.
Lalu kita menanam mahoni,
pada hening lereng, di bibir lembah ini.
Kau menangkup pangkal batangnya dengan kedua tangan,
“Kita tunggu sampai ia setinggi angin.”
Musim-musim susut, menyisakan semu.
Pakis merapat di sepanjang setapak yang dulu.
Lumut melumat batu,
menutup penanda yang dulu menunggu.
Batang itu meninggi senti demi senti,
mendorong sarang burung ke arah cuaca.
Sesekali aku datang.
Meraba kulitnya yang kian legam,
mencari lingkar tahun yang tersimpan diam.
Sementara kita
makin jarang bertukar kabar.
Sementara jalan-jalan di kampung
makin sering dipenuhi tenda.
Hingga suatu sore, kabar tentangmu sampai juga:
seperti suara kapak di seberang bukit,
jauh, namun rubuhnya berdebum di dada.
Lalu kutemukan torehan baru pada kulit batangnya:
sepasang nama yang bukan milik kita.
2026

Artikel Lainnya


