Blog

  • Mengonsumsi Ketenangan: Budaya Nongkrong di Jalan Slamet Riyadi

    Bolehlah sekiranya kita bertanya “mengapa kita lelah, terasing, atau kesepian?” dan itu adalah masalah. Lalu, di solo cukuplah pergi ke Jalan Slamet Riyadi. Tinggal pilih tempat yang sekiranya menarik, duduk minum kopi, melihat orang lain melakukan hal yang sama, dan menikmati suasana itu. Sekarang masalahnya bukan diselesaikan, melainkan dialihkan menjadi pengalaman yang bisa dibeli.

    Jalan Slamet Riyadi di Solo memperlihatkan fenomena yang menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, jalan yang semula terutama merupakan jalur mobilitas berkembang menjadi ruang produksi gaya hidup. Sore hingga malam, aktivitas di sepanjang jalan ini semakin beragam. Coffee shop dan street coffee menjadi titik berkumpul, sementara city walk, trotoar, dan ruang di sekitar bangunan komersial digunakan untuk duduk, berbincang, menikmati waktu luang, atau sekadar bertemu. Ia menjadi ruang tempat sebagian kehidupan sosial berlangsung.

    Lebih jauh, saya akan mulai dengan satu kalimat yang populer melalui influencer Bryan Barcelona, “Psikolog itu mahal, makanya Tuhan menciptakan Jalan Slamet Riyadi”, terpampang di salah satu coffee shop dan menghadap langsung ke Jalan Slamet Riyadi. Ia menarik bukan semata sebagai quote atau lelucon, melainkan karena menangkap sebuah gejala. Yaitu kebutuhan sosial dan emosional manusia yang semakin dimediasi oleh konsumsi.

    Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa orang suka ngopi, melainkan mengapa ruang untuk menjalani kehidupan sosial semakin banyak hadir melalui komoditas.

    Ruang kotaruang konsumsi

    Perubahan Jalan Slamet Riyadi menunjukkan bahwa ruang kota selalu dibentuk oleh cara masyarakat menggunakan, mengatur, dan memberinya makna. Ketika aktivitas komersial berkembang di sepanjangnya, ruang tersebut tidak hanya mengalami perubahan fungsi ekonomi, tetapi juga perubahan dalam cara manusia mengalami kota.

    Pada 2026, penggunaan city walk di sekitar coffee shop di Jalan Slamet Riyadi bahkan menjadi perhatian DPRD Solo, sementara Satpol PP melakukan penertiban terhadap sejumlah aktivitas usaha yang menggunakan ruang pedestrian. Persoalan ini tampak sebagai persoalan ketertiban ruang publik. Namun di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendasar: batas antara ruang publik dan ruang komersial semakin blur.

    Coffee shop semakin menjadi topik yang menarik. Ia tidak sekedar tempat menjual kopi  tetapi ia dapat memproduksi sebuah lingkungan yaitu suasana, kenyamanan, estetika, pelayanan, musik, pencahayaan, koneksi internet, jugakemungkinan untuk bertemu orang lain. Yang dibeli konsumen bukan semata-mata seporsi minuman, melainkan pengalaman yang dibangun di sekelilingnya.

    Kopi menjadi pintu masuk bagi komodifikasi yang lebih luas.

    Sebab kapitalisme kontemporer tidak lagi cukup menjual barang. Ia mengubah pengalaman menjadi nilai ekonomi. Atmosfer dapat dijual, kenyamanan dapat dijual, Identitas dapat dijual. Bahkan kesan autentik dan sederhana dapat dijual.

    Karena itu, yang berubah bukan hanya apa yang kita konsumsi, tetapi cara kita menjalani pengalaman sosial melalui konsumsi.

    Kelelahan dan Kapitalisme produksi kebutuhan 

    Namun jika ketenangan dapat dijual, kita perlu bertanya mengapa ketenangan menjadi sesuatu yang begitu dicari.

    Maka kritik Byung-Chul Han terhadap masyarakat prestasi agaknya menjadi menarik. Dalam The Burnout Society, Han menunjukkan bahwa kekuasaan kontemporer bekerja bukan terutama melalui larangan, tetapi melalui dorongan untuk terus mengoptimalkan diri. Individu didorong untuk menjadi produktif, kreatif, sehat, sukses, dan kompetitif.

    Kekuasaan menjadi semakin efektif ketika tuntutannya berubah menjadi keinginan personal.

    Kita tidak lagi harus dipaksa bekerja lebih keras. Kita memaksa diri sendiri karena merasa belum cukup berhasil. Diri berubah menjadi proyek yang harus terus diperbaiki.

    Konsekuensinya adalah kelelahan ekstrim.

    Tetapi sialnya kelelahan tersebut kemudian dipahami sebagai persoalan individu. Mark Fisher menyebutnya privatisation of stress, tekanan yang memiliki akar sosial dipindahkan ke dalam ranah personal. Alih-alih mempertanyakan struktur kehidupan yang menghasilkan kelelahan, individu didorong untuk memperbaiki kapasitas dirinya dalam menghadapi kelelahan tersebut.

    Maka lahirlah berbagai bentuk industri pemulihan: self-carewellnesshealingself-development, perjalanan, olahraga, terapi, hingga ruang-ruang yang menjual ketenangan.

    Munculah sebuah paradoks, sistem yang menghasilkan kebutuhan akan pemulihan juga dapat menjual pemulihan tersebut sebagai komoditas.

    Bukan berarti setiap bentuk self-care adalah manipulasi pasar. Persoalannya menjadi kian mendasar bahwa kebutuhan untuk beristirahat, merasa nyaman, memperoleh pengalaman, dan memulihkan diri semakin mudah diterjemahkan ke dalam bahasa konsumsi.

    Eva Illouz menyebut pertautan antara kehidupan emosional dan ekonomi tersebut sebagai emotional capitalism. Emosi tidak lagi sepenuhnya berada di luar mekanisme pasar. Ia menjadi sesuatu yang dapat dikelola, dibentuk, dan dimediasi melalui barang serta jasa.

    Kapitalisme tidak perlu menciptakan kebutuhan manusia untuk merasa nyaman. Ia cukup mengorganisasi cara kebutuhan tersebut dipenuhi. Konsumsi sama dengan produksi atas konsumsi itu sendiri.

    Tetapi kebutuhan saja tidak cukup menjelaskan mengapa satu tempat menjadi ramai sementara tempat lain tidak.

    Sebab kapitalisme tidak hanya bekerja melalui kebutuhan. Ia juga bekerja melalui produksi selera, yang menurut Bourdieu dibentuk oleh pengalaman sosial dan posisi kita dalam struktur masyarakat. Dalam konteks ini, proses tersebut semakin dipercepat oleh media sosial.

    Sebuah tempat menjadi populer karena tampil dalam unggahan. Popularitas menarik pengunjung. Pengunjung menghasilkan konten. Konten memperkuat popularitas.

    Harga untuk sebuah kehidupan sosial 

    Karena itu, budaya nongkrong tidak cukup dibaca sebagai persoalan konsumsi kopi.

    Nongkrong adalah praktik sosial. Ia memungkinkan manusia membangun relasi, komunitas, identitas, dan pengalaman bersama. Tetapi praktik tersebut semakin sering berlangsung dalam ruang yang diatur oleh logika komersial.

    Jika ruang publik menyediakan tempat bagi kehidupan sosial tanpa mensyaratkan konsumsi, maka seseorang dapat hadir terutama sebagai warga. Tetapi ketika ruang sosial semakin banyak bergantung pada ruang komersial, kehadiran seseorang secara perlahan juga memperoleh dimensi ekonomi.Kita memang tetap bebas memilih. Namun kebebasan tersebut berlangsung di dalam ruang pilihan yang telah dibentuk oleh pasar.

    Inilah bentuk kekuasaan kapitalisme kontemporer yang lebih”tingkat lanjut”. Ia tidak harus melarang manusia berkumpul. Ia tidak perlu memerintahkan manusia untuk membeli. Ia cukup membuat bentuk kehidupan tertentu lebih mudah dialami melalui konsumsi.

    Komodifikasi pengalaman hidup

    Kita membeli tempat untuk memperoleh suasana, membeli suasana untuk memperoleh pengalaman, lalu mengonsumsi pengalaman untuk membentuk identitas. Komoditas, selera, pengalaman, dan identitas akhirnya berputar dalam satu lingkaran.

    “Psikolog itu mahal, makanya Tuhan menciptakan Jalan Slamet Riyadi”— yang erat dengan sosok influencer Bryan Barcelona terdengar lucu dan menggelitik sekaligus patut dicurigai. Kelucuannya justru menyembunyikan cara kerja kapitalisme yang cukup sempurna yaitu persoalan psikologis diterjemahkan menjadi kebutuhan konsumsi.

    Kita tidak perlu bertanya mengapa kita lelah, terasing, atau kesepian. Cukup pergi ke Jalan Slamet Riyadi. Duduk, minum kopi, bertemu orang, menikmati suasana. Masalahnya bukan diselesaikan, melainkan dialihkan menjadi pengalaman yang bisa dibeli.

    Ironisnya, kalimat itu seolah membebaskan kita dari biaya psikolog, tetapi sekaligus memperkenalkan bentuk terapi yang lain, terapi melalui konsumsi. Kita membayar untuk mendapatkan suasana yang membuat kita merasa baik, lalu menganggap perasaan itu sebagai jawaban.

    Maka pertanyaannya bukan lagi “besok ngopi di mana?

    Tetapi mengapa untuk sekadar merasa hidup, kita semakin harus membeli tempat untuk merasakannya?

    Daftar Pustaka

    Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgement of taste. Harvard University Press.

    Fisher, M. (2011). The privatisation of stress. Soundings, 48, 123–133.

    Han, B.-C. (2015). The burnout society. Stanford University Press.

    Illouz, E. (2007). Cold intimacies: The making of emotional capitalism. Polity Press.

  • Interview Dekribs x Yusuf and Beny Berangkat “Konser Pejalan” NUSALAYARAN 

    Disclaimer: Wawancara ini berkaitan dengan dua musisi asal Solo yang hendak berangkat ke sebuah acara bernama “Konser Pejalan” yang diinisiasi oleh Nusalayaran. Acara dilaksanakan pada 18, 19, 20 September 2026.

    Okki: Oke.. oke.. selamat malam, ini interview pertama di Merentang.project. Kita sedang bersama dengan…..

    Bersama: Beny… dan Dekribssss hahahahaha….

    Bersama: Ahahahah keplok.. keplok… tepuk tangan emot

    Okki: Oke, to the point saja, kemarin aku lihat ada poster kalau Dekribs dan Yusuf and Beny akan kolaborasi di “Konser Pejalan” Nusalayaran. Pertama konfirmasi dulu, apakah itu benar? Jangan-jangan hoax.. AI.

    Dekribs: Ahahaha bener, tapi gambarnya AI.

    Yusuf and Beny: Ga punya foto bareng jadi di AI.

    Okki: Oke, dari acaranya dulu, sebenarnya “Konser Pejalan” itu apa? Itu sebenarnya acara apa? Menurut Yusuf And Beny? Bebas sepengalamanmu aja.. Kalo mau cari yang bener pasti aku tanyanya ke Mang Kidung (Inisiator Nusalayaran dan Konser Pejalan).

    Yusuf And Beny: Itu Acara….

    Okki: -_-

    Dekribs: Yo ngerti.. nek acara emang acara. Sekelas Pespor haha.

    Yusuf And Beny: Kalo aku tetep simpelnya pengen ketemu temen-temen, kumpul bareng.

    Yusuf A: Kalau menceritakan konser pejalan apa ya tetap tak mulai dari Nusalayaran. Nusalayaran itu kan komunitas…

    Dekribs: Regu.. hahaha.

    Yusuf: Komunitas.. mungkin aku nyimak dulu sampai sekarang itu, dia masih konsisten di isu alam. Cagar alam lah, isu ekologi, itu Nusalayaran terus dia bikin acara setahun sekali…

    Dekribs: Music Camp.

    Okki: Yusuf And Beny udah berapa kali ke Nusalayaran?

    Yusuf: Berapa ya.. lima atau enam kali lah.

    Dekribs: Brand Ambasador… hahaha.

    Yusuf: Hoo.

    Yusuf: Kalo pikirku.. bisa ga bisa harus berangkat, jadi setiap “Konser Pejalan” kalau jaraknya bisa dijangkau ya.. kan biasanya di Bandung jadi tiket berangkat delapan puluh pulang delapan puluh. Jadi masih kejangkau, kecuali dulu pernah di Sumatera. Kayaknya di Medan. Sebenarnya pengen berangkat tapi biayanya tidak terjangkau. Jadi kalau masih di sini dan aku pengen ketemu temen-temen jadi sangat diusahakan untuk bisa berangkat.

    Okki: Kalo Dekribs berapa kali?

    Dekribs: Sekali, baru sekali aku.

    Okki: Terus apa yang membuat Dekribs mau berangkat tahun ini, karena baru sekali kan?

    Dekribs: Mmmm.. kalo aku tendensinya bukan karena teman lama atau acaranya sih. Kalo aku lebih ke.. karena 2025 aku tour waktu itu pas dibanding yang ngurusin Mang Kidung yang kebetulan Owner.. CEO. CEO dari Nusalayran, akhire karena punya tendensine ke ikatan emosional. Mau berangkat nih, dan Ucup sering kesana kan… Yaudah ayo berangkat bareng. Gitu.

    Okki: Menurutmu Ben, bakal ada yang beda ga sih di “Konser Pejalan” tahun ini dari yang dulu-dulu?

    Yusuf: Menurutku?

    Yusuf: Menurutku biasa aja sih kayanya, paling yang membedakan penampilnya pasti juga ada yang baru. Kalo acaranya Jumat sampai Minggu, terus ADA Band, ada band?.. ada band-band-an nya, ada teater, ada workshop-workshop. Kalo ada yang beda apa enggak, belum tau mungkin besok pas acara baru tahu.

    Bersama: Hahahahahha jancok lucu banget.

    Dekribs: Tapi menarik lho, soalnya yang Nusalayaran besok itu banyak yang baru pertama kali kayak Si Erin Super, Si Anjing Gila.

    Yusuf: Dekribs.

    Okki: Dekribs melihat agenda konser pejalan ini yang sudah diupayakan bertahun-tahun di tengah popularitas pasar musik yang terus berubah tapi dia tetap ada. Menurutmu, Dekribs melihat ini bagaimana?

    Dekribs: Ini kayaknya satu dekade kan ya? Sepuluh tahun berarti.

    Dekribs: Kalo aku sebagai ekosistem bagus, sebagai ekosistem mereka yakin dengan ekosistem yang mereka yakini hari ini, itu bagus. Tapi ekspektasiku lebih sih selain musik dan camp gitu. Tetapi ada bentuk apa gitu selain itu semua… kegiatan apa gitulah. Misalnya apalah.. apa gitu kegiatan. Menebang hutan mungkin… hahahaha. Ya mungkin bisa ada movement lain setelah acara yang konkrit. Jadi Massagenya jelas gitu.

    Bersama: Nanem sawit mungkin hahaha.

    Okki: Oke, terakhir ya ini.

    Yusuf: Kok cepet men?

    Okki: Kalo kalian ada imajinasi terkait sebuah event atau acara musik paling ideal ga di kepala kalian. Bebas apapun, berkhayal gratis. Dekribs dulu deh.

    Dekribs: Kalo aku mungkin sebuah event yang konkrit dan jelas kayak itu lo ada kok konser di Eropa yang tujuanya untuk galang dana bagi pengidap kanker ( Mungkin salah satunya Rachel Goode’s chairity concert ) . Nah itu jelas dan konkrit.

    Yusuf: Kalo aku apa ya… mungkin ini.. anu.. Event musisi kurang mampu. Jadi mengumpulkan musisi-musisi yang miskin. Di masukkan ke event itu.

    Dekribs: Lah kita miskin lho… sik mbiayai sopo? (siapa yang mendanai?) Kita meh berangkat aja bingung og. Sik mbiayai sopo?

    Yusuf: BPJS hahaha… mungkin kartu baru ya. Kartu Indonesia Pintar.. Kartu Indonesia Musisi.

    Bersama: Hahahahhaaa.

    Okki: Jadi lebih ke program bukan event?

    Yusuf: Gak, maksud e semua alat pinjam misal sound pinjam si A, terus meja pinjam.. anu jadi tiket konser e harganya 10 juta… 20 juta okeeelah.

    Bersama: Hahahah ngayal cok.

    Okki: Oke terimakasih ya, Dekribs dan Yusuf And Beny akan kolaborasi di “Konser Pejalan”. Semoga berangkat lancar, acaranya lancar sampai pulang lagi dengan selamat. Terimakasih.

    Plokplokplokplok hahahaha

  • Sandilara: Sebentuk Upaya Merawat Teater Agar Terus Hidup dan Menghidupi


    Jika seni merupakan bagian dari pengalaman hidup sehari-hari, mengapa ia kerap dianggap berjarak dari dunia sosial yang mengasuhnya? Pertanyaan itu terasa menemukan jawabannya dalam perjalanan Teater Sandilara, sebuah komunitas teater yang telah tumbuh selama 13 tahun di Surakarta.


    Benih Asa Teater Sandilara
    Idham Ardi Nurcahyo, seniman kelahiran sukoharjo yang kini menekuni bidang sutradara dan penulis lakon di Teater Sandilara. Ketertarikan Idham dengan teater bermula sejak duduk di bangku SMA, disitu ia mulai merasakan potret kehidupan sehari hari yang dituangkan secara indah dalam bentuk seni pertunjukan.

    Melanjutkan studi di Universitas Sebelas Maret pada tahun 2010, Idham mengambil jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Di kampus, ia bergabung dengan UKM Teater Tesa. Dari ruang tersebut ia mulai bermain sekaligus menyutradarai pertunjukan hingga kemudian dipercaya menjadi ketua UKM.

    Perjalanannya di UKM Teater Tesa menjadi pengalaman penting yang membentuk cara pandangnya terhadap teater menjadi lebih luas. Teater dalam kerangka pikiran Idham perlahan tumbuh menjadi ruang untuk bertemu, belajar, dan memahami bahwa kesenian selalu berhubungan dengan manusia serta lingkungan tempat ia tumbuh.

    “Bagi saya, UKM Teater kampus merupakan sebuah gerbang. Apabila kita selamanya tumbuh disana, gerbang tersebut akan menjadi sempit dan akhirnya menghalangi generasi baru yang ingin tumbuh dan belajar” ujarnya.
    Pada tahun 2013, gerbang tersebut mengantarkan Idham bersama kawan-kawannya untuk mendirikan sebuah Kelompok Teater Sandilara. Dalam ruang itu ia tak hanya belajar tentang pertunjukan yang ada di atas panggung, melainkan bagaimana merawat komunitas, menjaga semangat kolektif, membangun jejaring, dan terus mencari cara agar teater tetap memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat.


    Menjemput penonton Teater Sandilara
    Perjalanan Kelompok Teater Sandilara diawali dengan jalan yang sederhana sekaligus penuh risiko. Mereka melakukan pentas keliling dari kampung ke kampung, dengan biaya nol rupiah, menggunakan properti seadanya dan alat musik pinjaman seperti gamelan. Cara tersebut secara perlahan menggeser bayangan tentang bagaimana sebuah pertunjukan teater semestinya berlangsung.

    Jika teater kerap dibayangkan hadir di gedung pertunjukan dengan lampu panggung, tiket, dan penonton yang duduk menyaksikan dari kejauhan, Sandilara justru membawa pertunjukan keluar dari batas-batas tersebut. Panggung tidak harus memiliki bentuk tertentu dan penonton tidak harus selalu datang melalui loket.

    Sejak 2013, mereka melakukan pentas keliling secara acak ke berbagai wilayah, mulai dari Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Batang, hingga Ngawi. Dari perjalanan tersebut, hubungan dengan masyarakat perlahan tumbuh. Mahasiswa KKN kemudian mulai menghubungi Sandilara untuk mengisi kegiatan kesenian di wilayah pengabdian mereka.

    Perjalanan keliling itu bukan sekadar persoalan memperluas wilayah pertunjukan. Ada cara pandang lain yang sedang dibangun Idham mengenai bagaimana sebuah kelompok kesenian seharusnya berhubungan dengan masyarakat. Ketika ada warga yang ingin bergabung dengan Sandilara, misalnya, Idham tidak serta-merta mengajaknya masuk menjadi anggota. Ia justru mengatakan,
    “Saya sarankan jangan di Sandilara. Buat teater sendiri di kampungmu. Nanti Sandilara bantu secara pengetahuan.”

    Sandilara tidak sedang berusaha menjadikan dirinya sebagai pusat dari seluruh aktivitas teater yang lahir dari perjalanan mereka. Sebaliknya, pengetahuan yang mereka miliki dianggap lebih berguna apabila dapat berpindah dan melahirkan ruang-ruang baru. Dengan cara tersebut, teater tidak berhenti sebagai pertunjukan yang selesai ketika pemain meninggalkan panggung. Ia menjadi pengetahuan yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, dari satu kelompok ke kelompok lain, bahkan dari satu kampung menuju kampung lainnya.

    Menyemai Asa Teater Sandilara
    Perjalanan tersebut kemudian menemukan bentuk baru pada 2025 ketika melalui Teater Sandilara, Idham membuka Sedarah Acting Studio, sebuah kelas akting yang menjadi ruang pendidikan dan kreativitas bagi anak-anak.
    Kehadiran ruang belajar ini memperlihatkan bahwa setelah bertahun-tahun bergerak membawa teater menuju masyarakat, persoalan berikutnya bukan hanya bagaimana membuat pertunjukan tetap berlangsung, tetapi bagaimana pengetahuan tentang teater dapat diwariskan.

    “Saya meyakini bahwa teater memiliki diemensi lain selain di panggung, yaitu dunia pendidikan. Secara tidak langsung, anak belajar untuk berani menjadi dirinya sendiri, tampil di atas panggung, dan lepas dari belenggu – belenggu ketakutan dalam interaksi sosial” ujar Idham.

    Tercatat, telah berlangsung tiga kelas dengan jumlah peserta 30 anak yang mengikuti program. Hal ini menunjukan bahwa ruang berbasis pendidikan anak merupakan metode dalam menjemput generasi baru, sekaligus upaya untuk menjaga kebertahanan dunia teater di masa kini. Anak-anak yang datang mengikuti kelas tersebut mungkin belum mengetahui akan membawa pengalaman itu ke mana.

    Mereka mungkin kelak menjadi aktor, mungkin juga tidak. Namun, proses mengenal panggung, membaca peran, mengolah tubuh, bekerja bersama, dan berhadapan dengan penonton memberikan pengalaman yang tidak hanya berhenti pada kemampuan tampil. Seperti yang disampaikan Idham, bahwa didalamnya terdapat proses belajar tentang keberanian, kerja kolektif, dan cara memahami orang lain melalui peran yang dimainkan.

    Pada titik ini, perjalanan Idham bersama Sandilara dapat dibaca sebagai sebuah rangkaian yang tidak berdiri sendiri. Ia bermula dari pengalaman mengenal teater di bangku SMA, tumbuh dan belajar teater di ruang kampus, kemudian bergerak keluar membawa pertunjukan ke kampung-kampung, lalu berkembang menjadi upaya membangun ruang-ruang kesenian melalui distribusi pengetahuan, dan kini menemukan bentuk lain melalui pendidikan anak-anak.

    Pertunjukan pada akhirnya akan selesai, panggung akan kembali kosong, dan lampu akan dimatikan. Kemudian yang menentukan apakah teater benar-benar mati atau tetap hidup adalah apa yang tertinggal setelah semua itu berakhir. Jika pengalaman, pengetahuan, dan keberanian untuk menciptakan ruang baru masih berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka teater belum benar-benar selesai. Ia hanya sedang mencari panggung berikutnya untuk kembali hidup.

  • Evolusi “Talking Head” : Manifesto Skena Pinggiran yang Merawat Solidaritas dari Sisa Saldo Tour hingga Jangkar UNIVET 2026

    Menjadi musisi partikelir atau pencinta musik di kabupaten penyangga seperti Sukoharjo dan wilayah lainnya yang menyokong solo sebagai “Kota” adalah perihal merawat keteguhan hati. Ketika panggung-panggung megah bermodal sponsor korporasi raksasa terpusat di kota-kota besar dengan harga tiket yang menguras dompet pekerja, anak muda di daerah kabupaten dipaksa memutar otak. Di tengah situasi ekonomi yang makin menantang serta minimnya ruang publik yang inklusif untuk berekspresi, skena akar rumput muncul sebagai jawaban dan sering kali harus menghidupi dirinya sendiri agar tidak mati suri.

    Fakta inilah yang melatari Darsa Kolektif untuk konsisten mengaktivasi beberapa program seperti Keliling Kabupaten, yaitu salah satu program gigs dengan venue berpindah – pindah di seluruh Kecamatan wilayah Kabupaten Sukoharjo. Program tersebut dilaksanakan melalui pendanaan secara kolektif sebagai wadah untuk para seniman rupa dan pertunjukan mempersembahkan karya – karyanya. Mencoba untuk menggeser pasar “Kota” dalam ruang lingkup daerah yang berada di pinggiran.

    Berangkat dari Sisa Saldo Tour dan Solidaritas Kepala ke Kepala

    Seiring berjalannya waktu, band indie pop asal Lombok, The Dare, sedang singgah di Sukoharjo. Sesaat setelahnya, beberapa band lokal seperti The Suse, Sprayer, dan W3 (Wahana Warna Warni) baru saja menyelesaikan tour di Malang dan Kediri. Rangkaian peristiwa tersebut membuahkan siasat ide yang liar, pun juga terdapat beberapa kawan yang memiliki usaha mandiri.  Melalui obrolan hangat di tongkrongan kelurahan, Abu Dian Permana dan Badrun mencetuskan aktivasi gigs bernama Talking Head.

    Secara filosofis, nama ini dimaknai sebagai perjumpaan dari kepala ke kepala. Semangat saling tatap dan bertukar isi kepala itu pun dimanifestasikan ke dalam logo animasi ikonik yaitu seekor kucing sedang berhadapan dengan kepala kucing yang dipegang oleh tangannya sendiri. Berbeda dengan program Keliling Kabupaten, Talking Head edisi pertama hanya sekedar kegiatan dengan racangan yang sederhana dan lebih luwes untuk mempromosikan usaha kawan kawan guna mendukung pergerakan tur bersama sejumlah band—termasuk The Jeblogs dan Candles asal Kediri. Meski begitu, kompromi komersial ini tetap melewati filter ketat komunitas agar idealisme mereka tidak tergadaikan.

    Sebentuk Upaya Mengurangi Rutinitas Kaku, Merawat Intimasi di Lereng Gunung

    Alih-alih terjebak pada ambisi industri yang menuntut sebuah acara harus diadakan rutin setiap tahun, Talking Head memilih setia pada denyut keresahan dan keinginan kolektif anggapannya. Format kegiatannya pun selalu dinamis dan berpindah tempat guna mencari pengalaman ruang yang baru. Memasuki edisi kedua pada tahun 2023, arena pertunjukan justru digeser ke sebuah villa di kawasan Tawangmangu, Karanganyar.

    Edisi kedua tersebut dikemas lebih intim dengan berkolaborasi bersama kolektif lokal setempat, serta turut menampilkan band seperti DozeClub. Hebatnya, ekosistem gotong royong ini begitu cair. Adian Permana mengenang bagaimana kuatnya rasa kepemilikan komunal saat itu, “Untuk Talking Head kedua, semua band teman-teman ditembusi, bahkan ada band yang tidak ikut main juga turut serta iuran. Kami pengen coba untuk membangun bahwa gigs bukan hanya milik Darsa Kolektif, namun milik teman-teman juga.” Komunitas ini berhasil membuktikan tesis penting, bahwa sebuah gigs bukanlah properti milik satu kelompok semata, melainkan ruang milik seluruh entitas yang menghidupinya.

    Manifestasi 2026: Menghidupi Ekonomi Akar Rumput di UNIVET

    Memasuki tahun 2026, Talking Head kembali hadir  di UNIVET (Universitas Veteran Bangun Nusantara) Sukoharjo dan menjadi sebuah program yang diorganisir oleh Darsa Koletif. Kehadiran edisi ketiga ini merupakan respons langsung terhadap berbagai isu ekonomi dan keresahan sosial hari ini. Di tengah impitan ekonomi, Talking Head membuat inisiasi tiketing dengan harga yang sangat terjangkau. Manajemen finansial mereka disokong penuh lewat sistem pendanaan mandiri, di mana kontribusi teman-teman komunitas tidak melulu dinilai dengan rupiah. “Kolektifannya teman-teman tidak hanya iuran uang, namun juga barang atau tenaga, dan lainnya,” jelas Adian, menegaskan bahwa gotong royong di skena ini belum punah.

    Lebih jauh lagi, kini program bukan hanya sekadar tempat hura-hura mendengarkan distorsi gitar. Format Talking Head menggabungkan pertunjukan musik dengan ruang diskusi kritis mengenai fenomena perkembangan musik serta topik relevan lainnya di Solo Raya. Guna memberikan pengalaman (experience) yang berbeda dan memecah kekakuan, panitia menyisipkan aktivasi menarik seperti permainan lotre hingga game interaktif di area acara.

    Pada akhirnya, Talking Head memiliki cetak biru jangka panjang yang visioner untuk mengangkat ekosistem lokal. Adian menambahkan, “Harapannya ke depan Talking Head bisa menjadi suatu ruang untuk bisa mewadahi kawan-kawan yang punya usaha mandiri seperti sablon, jualan es, aksesoris, merch, dan lainnya, lalu dapat menjadi besar seperti festival besar lainnya.” Dari sisa saldo tur di pinggiran Sukoharjo, mereka sedang menanam benih sebuah festival mandiri yang terbukti konsisten merawat akarnya dari tahun ke tahun.

  • Saedisade: Memoar Widi Samudra dalam Membaca Zaman dan Menjemput Pulang Rilisan Fisik

    Di tengah derasnya arus digitalisasi, cara manusia menikmati musik ikut berubah. Platform streaming menghadirkan jutaan lagu yang dapat diakses hanya melalui sentuhan jari, menjadikan musik semakin mudah didengar, tetapi sekaligus semakin jauh dari pengalaman memiliki. Lagu hadir sebagai layanan yang dapat diputar kapan saja, namun juga dapat hilang sewaktu-waktu ketika langganan berakhir. Di tengah kemudahan itu, muncul gejala yang berjalan ke arah sebaliknya. Sebagian anak muda mulai kembali mencari kaset pita, compact disc (CD), piringan hitam, hingga perangkat audio lawas. Bukan semata-mata karena nostalgia, melainkan karena mereka sedang mencari pengalaman mendengarkan musik yang lebih personal, utuh, dan bermakna.

    Perubahan cara pandang inilah yang dibaca Widi Samudra. Selama dua tahun terakhir, ia melihat geliat komunitas pencinta rilisan fisik dan barang vintage di Solo Raya terus bertumbuh. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di balik dominasi budaya digital, masih ada ruang yang dihuni oleh orang-orang yang ingin menyentuh, merawat, dan memiliki musik dalam bentuk fisiknya.

    “Dua tahun belakangan terakhir ini geliat rilisan fisik dan barang vintage mulai naik lagi, karena menyadari pasar terkait supply and demand-nya bisa seimbang,” kata Widi Samudra.

    Bagi Widi, gejala itu bukan sekadar peluang ekonomi, melainkan penanda bahwa kebiasaan mendengarkan musik sedang mengalami pergeseran. Dari pembacaan tersebut, pada 2022 ia mendirikan Saedisade di Karanganyar, Jawa Tengah. Unit usaha ini berfokus menjual rilisan fisik berupa kaset pita dan CD, lengkap dengan perangkat pemutarnya seperti CD player, turntable, amplifier, hingga speaker produksi dekade 1970-an, 1980-an, dan 1990-an. Namun, Saedisade tidak berhenti sebagai ruang transaksi. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan memori masa lalu dengan kebutuhan generasi hari ini melalui medium musik.

    Kedekatan Personal yang Menumbuhkan Ruang Analog

    Lahirnya Saedisade juga tidak dapat dipisahkan dari perjalanan personal Widi. Jauh sebelum membuka usahanya, ia telah memiliki ketertarikan terhadap barang-barang analog sejak 2017. Ketertarikan yang berawal dari hobi itu perlahan berkembang menjadi pemahaman bahwa nilai sebuah rilisan fisik tidak hanya terletak pada kualitas suaranya, tetapi juga pada pengalaman kepemilikan yang menyertainya.

    Di tengah budaya streaming yang serba instan, Widi melihat adanya perbedaan mendasar antara mengakses dan memiliki musik. Platform digital memang menawarkan kemudahan, tetapi hubungan pendengar dengan karya menjadi bergantung pada sistem berlangganan. Sebaliknya, rilisan fisik menghadirkan ikatan yang lebih intim karena musik benar-benar menjadi milik pendengarnya.

    “Ketika kita berlangganan di digital streaming, saat langganan itu habis kita tidak bisa memilikinya lagi, namun apabila memiliki rilisan fisik ada rasa kepuasan karena tidak akan ada masa habisnya karena sudah dimiliki sepenuhnya,” jelas Widi mengenai kedekatan personalnya dengan rilisan fisik.

    Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa rilisan fisik bukan sekadar benda koleksi, melainkan medium yang membangun hubungan emosional antara karya, musisi, dan pendengarnya. Memilih kaset atau CD berarti memilih pengalaman mendengarkan secara lebih sadar; membuka kemasan, membaca sampul album, memasang kaset, hingga mendengarkan lagu tanpa tergoda untuk terus berpindah ke judul berikutnya. Di situlah Saedisade hadir sebagai ruang yang merawat pengalaman tersebut di tengah budaya konsumsi digital yang semakin cepat.

    Meski demikian, merawat ruang analog bukan pekerjaan yang mudah. Widi mengakui bahwa tantangan terbesar datang dari keterbatasan modal dan sulitnya memperoleh stok barang berkualitas. Kaset, CD, maupun perangkat audio lawas yang masih berfungsi baik semakin sulit ditemukan sehingga setiap barang harus melalui proses seleksi yang ketat sebelum sampai ke tangan pembeli. Kondisi ini menunjukkan bahwa usaha rilisan fisik tidak hanya bergantung pada pasar, tetapi juga pada kemampuan menjaga kualitas dan kepercayaan komunitas.

    Di balik tantangan tersebut, Widi memiliki visi yang melampaui aktivitas jual beli. Ia berharap Saedisade dapat berkembang menjadi pemasok utama rilisan fisik bagi band-band lokal di Solo Raya melalui sistem grosir atau wholesale. Dengan demikian, Saedisade tidak hanya menghidupkan kembali barang-barang analog, tetapi juga ikut memperkuat ekosistem ekonomi musik independen yang bertumpu pada jejaring komunitas.

    Menjemput Pulang Cara Mendengarkan Musik

    Menjelang akhir perbincangan, Widi menyampaikan pesan bagi generasi muda yang mulai tertarik pada rilisan fisik dan barang vintage. Baginya, kegemaran mengoleksi musik tetap harus dibarengi dengan kesadaran dalam membedakan kebutuhan dan keinginan.

    “Untuk teman-teman yang mulai tertarik di rilisan fisik dan barang vintage harus lebih selektif untuk melihat bagaimana kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan secara mendengarkan musik yang mereka butuhkan dan keinginan secara mereka mengeluarkan biaya untuk membeli rilisannya,” tutur Widi menutup perbincangan.

    Pesan tersebut menjadi penutup yang sekaligus mengembalikan makna ke titik awal tulisan. Di tengah dunia yang terus bergerak menuju layanan digital, kebangkitan rilisan fisik bukanlah upaya menolak kemajuan teknologi, melainkan cara sebagian orang merawat hubungan yang lebih utuh dengan musik. Melalui Saedisade, Widi Samudra menunjukkan bahwa benda-benda analog masih memiliki tempat sebagai ruang bertemunya memori, pengalaman, dan keberlanjutan ekosistem musik lokal. Di tengah zaman yang serba cepat, ia memilih menjaga satu hal yang perlahan mulai langka: kedekatan manusia dengan karya yang benar-benar dimilikinya.

  • Piala Dunia 2026 : Ribut-Ribut Geopolitik, Memoeri, Merayakan dan Gerbang Datang Pergi Gerbang Sepak Bola Dunia

    Jago Nonton Bola

    Ingatan ini terlempar di 2010, saat Piala Dunia untuk pertama kalinya digelar di Afrika. Laga dini hari nanti seperti ulangan dengan Meksiko sebagai tuan rumah menjamu Afrika Selatan. Tarian Tshabalala begitu melekat sampai sekarang. Ternyata perubahan tak terasa begitu melesat cepat dan semakin tertinggal saja ngikutin sepak bola ini. Berbagai konten berseliweran, banyak yang membahas tentang tarian terakhir CR7 atau Messi atau nama-nama lain yang memang beken. Edisi yang konon akan menjadi pamungkas bagi para super star dan gerbang awal untuk generasi baru sepak bola dunia.

    48 negara ikut serta, tiga negara sebagai tuan rumah. Konon FIFA melakukan penyegaran supaya turnamen lebih seru dan gajul-gajulan lebih rame. Kenyataan yang ada, antusiasme pada Piala Dunia tidak sebagaimana di edisi sebelum-sebelumnya. Setidaknya itu yang saya rasakan sendiri. Tambahan slot peserta adalah sebuah upaya menjaga turnamen lebih intens dan seru, selaras dengan konsep Uncertainty of Outcoe Hypotesis, pertandingan akan lebih menarik ketika hasilnya sulit diprediksi. Ada kejutan dalam permainan 11 lawan 11, seperti edisi empat tahun lalu di Qatar, saat Arab Saudi membuat Argentina ambruk. Statistik dan ekspektasi bertekuk lutut di depan kenyataan. Barangkali FIFA ingin hal semacam itu di turnamen 2026 ini.

    Tambahan peserta juga diharapkan FIFA sebagai daya tarik Piala Dunia yang sebenarnya tidak hanya berasal dari sepak bola. Dalam psikologi sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk mendefinisikan dirinya melalui kelompok yang didukung. Dalam konteks Piala Dunia, kelompok itu adalah negara yang ikut serta. Bendera, lagu kebangsaan, warna jersey, keyakinan politik, simbol-simbol nasional dan lain-lain menciptakan keterikatan emosional yang jauh melampaui permainan sepak bola itu sendiri. Seseorang mungkin tidak memahami seluruh taktik sepak bola, tapi tetap merasa gembira ketika negara yang didukungnya menang dan ikut sedih ketika negara jagoannya kalah, terlebih jika kadung pasang taruhan.  Akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya terkait hasil pertandingan semata, tapi juga identitas kolektif.

    Belum lagi tentang Piala Dunia yang menjadi cerita bersama. Terasa hambar ketika sebuah turnamen tanpa narasi yang melingkupinya. Selalu saja ada tim kuda hitam atau pemain yang tiba-tiba moncer, favorit juara geblak di awal, perjalanan panjang menuju final, rivalitas dari luar lapangan yang ikut dibawa, dan semacamnya. Penonton disuguhi kisah, dipaksa terlibat secara pikiran dan emosional. Narrative Transportation berjalan, penonton larut dalam cerita yang ada dan merasa bagian dari cerita yang ada.

    Semua itu akan dirasakan seluruh penonton Piala Dunia, tak terkecuali yang ada di Indonesia yang masih juga jago nonton bola, tanpa ikut serta dalam turnamen akbar kali ini, sama seperti sebelum-sebelumnya, kecuali di 1938 saat masih pakai Hindia Belanda. Meski jam siaran pertandingan tak akrab dengan jam Indonesia yang pagi kudu glidik, tapi kecanggihan internet dengan klak-klik tetap saja akan menyajikan apa yang ada di Piala Dunia 2026, di sela berita krisis yang ugal-ugalan tak ketulungan.

  • Sidang Sastra, Mimisan, dan Bahasa yang Berkelahi

    “Mata saya merah dan debu dan pikiran buruk berkecamuk dalam Sidang Sastra, di Kedai Lahan Subur, Mojosongo, Kamis malam itu.” – Kesaksian Beri Hanna, tanggapan terkait sidang yang memojokkan dia

    21 Mei 2026.
    Sebuah sidang sastra tentang bahasa, keberpihakan, AI, dan kegagapan menjadi penulis.

    “Apabila setiap kata adalah pertanyaan, setiap darinya pula punya jawaban. Akan tetapi, apabila setiap kata adalah jawaban, setiap darinya pula tidak punya pertanyaan.”

    Sidang Sastra malam itu berubah menjadi perdebatan panjang:
    tentang bahasa,
    kebenaran,
    sastra,
    ekonomi,
    dan keberpihakan.

    Bahasa bisa membuat seseorang tampak benar sekaligus keliru.
    Tanpa konteks, keraguan menjadi bayang-bayang paling mencekam.

    AI ikut masuk ke meja diskusi:
    membongkar biografi,
    membaca pola karya,
    hingga menghubungkan tulisan saya dengan Putu Wijaya, Hamsad Rangkuti, dan Alejandro Jodorowsky.

    “Saya memecah diri saya dari pembaca dengan apa yang saya tuliskan.”

    Sidang Sastra kemudian menyoal posisi saya sebagai penulis:
    apakah saya menulis untuk diri sendiri?
    terlalu keras kepala untuk dimengerti?
    atau hanya sibuk mengejar eksplorasi estetika?

    Di tengah debat tentang politik bahasa,
    saya mulai melihat sastra seperti komplotan koboy:
    portal ke portal,
    festival ke festival,
    lingkaran ke lingkaran.

    Dan saya?
    Goyah mencari posisi.

    “Make money is art,” kata Andy Warhol.
    Mungkin benar:
    bahkan sastra pun tak pernah benar-benar lepas dari uang.

    “Barangkali, bahasa memang memiliki kekuatan dan dasar keberpihakan seseorang. Maka, dengan begitu, cinta bisa berarti menyayangi sekaligus membunuh.”

    Sidang Sastra ditutup dengan ribut-ribut soal keberpihakan sastra, penguasa narasi, dan siapa yang sebenarnya diwakili oleh bahasa.

    Sebagai penulis,
    saya pulang dengan kepala lebih penuh daripada sebelumnya.

  • Mendengar DOKSTRAL Dan Upaya Memahami FSTVLST

    Mendengar DOKSTRAL Dan Upaya Memahami FSTVLST

    Ada kegamangan tertentu ketika harus mengatakan bahwa Paradoks Diametral adalah album terbaik FSTVLST. Bukan karena ia album yang buruk, kenyataanya justru sebaliknya. Dokstral, begitu album ini kemudian akrab dipanggil, mungkin adalah salah satu karya FSTVLST terasa komplit dan matang baik secara lirik maupun estetika musik yang disuguhkan dan terangkai dalam sebuah album musik. Tetapi bagi saya, predikat “terbaik” jika berbicara FSTVLST masih milik Hits Kitsch (2014). Sementara Dokstral menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia terdengar seperti karya dari orang yang sudah cukup lama berjalan melewati api, lalu menoleh ke belakang untuk melihat apa yang tersisa dari nyala baranya.

    Perihal pengalaman mendengar Hits Kitsch hampir selalu terasa ingin menggerakkan tubuh; hentakan drum, riff gitar, permainan bass, dan vokalnya membuat sebagian besar lagu seperti terus mendorong pendengar untuk ikut bergerak, mengangguk, menghentak, atau meneriakkan bagian-bagian tertentu bersama-sama. Bagi saya, musik Hits Kitsch tidak sekadar menjadi wadah bagi kegelisahan yang disampaikan lirik, tetapi membuat kegelisahan itu terasa secara fisik. Ada sesuatu yang mentah, langsung, dan tidak sabar di dalam cara lagu-lagunya bergerak; seolah gagasan yang sudah terlalu penuh mencari jalan keluar melalui tubuh sebelum sempat dirumuskan menjadi pikiran.

    Saya pertama-tama mengenal FSTVLST dari pengalaman semacam itu. Musik yang membuat lirik tidak sekadar didengar, tetapi diteriakkan kembali. Ada lagu yang terasa seperti milik kerumunan. Hits Kitsch bekerja dengan cara yang sangat fisik. Ia tidak hanya menyampaikan kritik; ia membuat kritik itu terasa sebagai energi di dalam tubuh.

    Hits Kitsch menunjuk sesuatu di luar dirinya misalnya ; ketidakadilan, perubahan zaman, kekuasaan, kerusakan, dan manusia yang terseret di dalamnya. Ada semacam keyakinan bahwa dunia sedang bermasalah dan musik dapat menjadi cara untuk menunjukkannya.

    Justru di situlah kekuatan sekaligus keterbatasan Hits Kitsch. Ia masih cukup percaya pada batas antara yang benar dan yang salah, yang sadar dan yang tidak sadar, “kita” dan “mereka”. Subjeknya masih berdiri di satu sisi sambil menunjuk dunia di sisi lainnya. Tetapi saya tidak menganggap itu sebagai kelemahan yang buruk. Barangkali karena belum selesai itulah Hits Kitsch terasa begitu hidup. Ia belum berdamai dengan dunia, dan karena itu ia masih memiliki bara yang besar.


    Lima tahun kemudian, FSTVLST II (2020) datang seperti sebuah lorong. Ia tidak mengulang Hits Kitsch, tetapi juga belum sampai pada wilayah Dokstral seperti hari ini. Ada energi lama yang masih tersisa, tetapi arah pandangnya perlahan berubah. Jika Hits Kitsch membuat tubuh ingin bergerak dan mulut ingin berteriak, FSTVLST II mulai memberi jarak bagi pendengar untuk memperhatikan apa yang sebenarnya sedang dikatakan.

    Di sinilah saya menempatkan album kedua itu. Ia adalah ruang antara menunjuk dunia dan mulai mempertanyakan diri. Bukan sekadar jembatan dalam kronologi, tetapi jembatan dalam cara mendengar.

    Kemudian Paradoks Diametral datang pada 2026 dengan dua belas lagu dan membawa FSTVLST ke wilayah bunyi yang lebih berlapis. Saya tidak cukup kompeten untuk mengurai seluruh teknis aransemen musiknya, tetapi sebagai pendengar, perubahan itu terasa cukup jelas. Ada synth, warna new wave, sentuhan elektronik, bahkan nuansa disko yang membuat musik mereka terdengar lebih luas. Gitar tidak lagi selalu menjadi pusat gravitasi. Ada lapisan-lapisan bunyi yang membuat lagu terasa memiliki ruang yang begitu luas dan menunggu dieksplorasi.

    Perubahan ini penting karena membuat lirik ternyata tidak harus selalu bekerja dengan cara menghantam dan ajaibnya ia masih akrab seperti FSTVLST yang saya dengar dikerumunan dulu. Ada lagu yang terasa seperti bergerak maju, tetapi ada pula yang memberi kesan melayang, mengulang, atau membiarkan suasana bekerja lebih lama daripada kalimatnya. Bagi saya, Dokstral bukan hanya album yang lebih ramai secara bunyi, tetapi album yang cukup mempertimbangkan banyak hal selain ledakan energi. Mereka tampaknya tidak lagi terlalu sibuk memenangkan argumen.
    Dalam “Jefferson”, misalnya, muncul lirik yang ternyata terdapat tanda tanya (?): “hidup yang berarti?
    bukan sekadar tak mati?
    mati yang berarti?
    mesti yang terakhir kali?”

    Ia tidak memberikan petunjuk tentang siapa atau apa yang salah dan yang benar. Ia justru berupa pertanyaan, jika banyak lagu kemudian memiliki pengikut dan lirik bekerja sebagai dogma, Jafferson bekerja dengan cara yang berbeda ia justru bertanya. Seolah menunjukkan penolakan terhadap pengkultusan pada lagu-lagu mereka. Ini jadi satu sisi kesadaran FSTVLST yang kemudian cara mereka melihat dunia banyak mempengaruhi pendengar.

  • Pendidikan Kaum Tertindas

    Melalui dialog, manusia dapat meneliti realitas sosial mereka dan menemukan apa yang disebut “tema-tema generatif”, yaitu persoalan-persoalan nyata yang muncul dari kehidupan masyarakat.

    Menurut Freire fungsi pendidikan sering kali tidak diarahkan pada tujuan untuk membebaskan manusia, melainkan mempertahankan dominasi dan status quo. Dengan kata lain sistem pendidikan tradisional menjadi alat kekuasaan yang mereproduksi struktur penindasan dalam masyarakat. Freire menyebut bentuk pendidikan ini sebagai “pendidikan gaya bank”, yaitu model di mana guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan yang “menyetor” pengetahuan kepada murid yang pasif. Hubungan ini mencerminkan struktur sosial yang hierarkis antara penindas dan tertindas.

    Dari sini Freire kemudian menawarkan “pendidikan hadap-masalah”. Dalam model ini, kontradiksi antara guru dan murid diatasi melalui hubungan dialogis. Guru dan murid tidak lagi berada dalam relasi dominasi, tetapi belajar bersama untuk memahami realitas dunia. Pendidikan menjadi proses timbal balik antara manusia dan dunia, di mana manusia sebagai makhluk sadar yang belum sempurna berusaha terus menjadi lebih manusiawi.

    Freire menekankan pentingnya dialog sebagai inti pendidikan yang membebaskan. Melalui dialog, manusia dapat meneliti realitas sosial mereka dan menemukan apa yang disebut “tema-tema generatif”, yaitu persoalan-persoalan nyata yang muncul dari kehidupan masyarakat. Tema-tema ini kemudian menjadi dasar isi program pendidikan. Proses penelitian terhadap tema-tema tersebut bertujuan membangkitkan kesadaran kritis, sehingga rakyat mampu memahami kondisi penindasan yang mereka alami.

    Untuk menjelaskan mekanisme ini secara lebih mendalam, Freire kemudian membedakan antara budaya antidialogis dan budaya dialogis secara lebih rinci dan terpisah:

    Budaya Antidialogis
    dan Unsur-Unsur Pembentuknya

    Freire menyebut cara dominasi ini sebagai budaya antidialogis, yaitu pola hubungan sosial yang menolak dialog sejajar dan menggantinya dengan dominasi. Dalam konteks revolusi, pola ini sering dipakai oleh elite atau penguasa untuk mengendalikan rakyat.

    1. Penaklukan

    Penaklukan adalah bentuk pertama dari tindakan antidialogis. Dalam penaklukan, manusia diperlakukan sebagai objek yang harus dikuasai. Freire bahkan menyebutnya sebagai tindakan necrofilis, yaitu kecenderungan mencintai sesuatu yang mati dan statis daripada kehidupan yang bebas dan kreatif.

    Dalam analogi hubungan antara pemimpin revolusi dan rakyat, penaklukan terjadi ketika pemimpin memperlakukan rakyat bukan sebagai subjek perjuangan, melainkan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Dalam kondisi ini, mitos dan propaganda digunakan untuk menundukkan rakyat. Contoh mitos tersebut biasanya berupa suatu hal yang menggiring pada narasi bahwa elite tertentu adalah penyelamat rakyat, atau bahwa penderitaan rakyat adalah sesuatu yang wajar dan tidak dapat diubah.

    2. Pecah dan Kuasai

    Strategi kedua adalah memecah belah rakyat agar mereka tidak mampu bersatu melawan penindasan. Penindas akan menghancurkan solidaritas sosial dan menciptakan konflik antar kelompok.

    Dalam praktik politik, elite sering memecah rakyat melalui perbedaan kelas, suku, agama, atau kepentingan ekonomi. Mereka juga menciptakan ilusi kedermawanan elite. Elite tampil sebagai penyelamat melalui bantuan sosial atau amal, padahal pada saat yang sama merekalah yang menciptakan kondisi yang menyebabkan rakyat menjadi miskin.

    Freire menyebut fenomena ini sebagai “mitos karitas”, yaitu kedermawanan palsu dari kaum elite yang sebenarnya hanya mempertahankan struktur dominasi.

    Dalam analogi revolusi, penguasa bisa menuduh gerakan pembebasan sebagai “perusak pembangunan”, sementara kebijakan yang sebenarnya merusak kehidupan rakyat justru disebut sebagai “pembangunan”.

    3. Manipulasi

    Manipulasi terjadi ketika penindas menanamkan nilai-nilai tertentu kepada rakyat agar mereka tetap menerima sistem yang menindas. Salah satu bentuk manipulasi adalah menanamkan ideologi kesuksesan individual ala borjuis, sehingga rakyat lebih fokus mengejar keberhasilan pribadi daripada memperjuangkan perubahan struktural.

    Freire juga mencatat bahwa manipulasi sering melibatkan pemimpin populis yang berbicara atas nama rakyat tetapi sebenarnya mempertahankan sistem yang sama. Dalam sejarah Amerika Latin, ia menyinggung tokoh seperti Getúlio Vargas sebagai contoh pemimpin yang memanfaatkan dinamika populisme dalam hubungan dengan massa.

    Dalam situasi manipulasi, gerakan revolusioner juga dapat tergoda untuk merebut kekuasaan secepat mungkin tanpa membangun kesadaran rakyat terlebih dahulu. Menurut Freire, pemimpin revolusi yang sejati harus melakukan hal sebaliknya: mereka harus menghadapkan kontradiksi sosial kepada rakyat agar rakyat menyadari kondisi mereka dan mengorganisir diri.

    4. Serangan Budaya

    Serangan budaya terjadi ketika kelompok dominan memaksakan nilai, cara berpikir, dan pandangan dunia mereka kepada kelompok yang ditindas. Dalam proses ini, budaya rakyat dianggap rendah atau tidak beradab, sementara budaya penindas dianggap lebih maju.

    Akibatnya, rakyat yang ditindas mulai memandang dunia melalui perspektif penindas. Mereka merasa inferior dan berusaha meniru penindas—berjalan seperti mereka, berbicara seperti mereka, bahkan berpikir seperti mereka. Dalam kondisi ini rakyat menjadi terasing dari kebudayaan dan identitasnya sendiri.

    Dalam konteks revolusi, serangan budaya sangat berbahaya karena dapat membuat rakyat kehilangan kepercayaan pada potensi dirinya sendiri.

    Budaya Dialogis
    dan Unsur-Unsur Pembentuknya

    Sebagai alternatif terhadap budaya antidialogis, Freire menawarkan budaya dialogis, yaitu cara berhubungan yang didasarkan pada kesetaraan, kesadaran kritis, dan partisipasi aktif rakyat.

    1. Kerjasama

    Kerjasama berarti bahwa pemimpin dan rakyat bekerja bersama sebagai subjek perjuangan. Pemimpin revolusi tidak boleh menempatkan diri sebagai penguasa yang memberi perintah, tetapi sebagai bagian dari proses pembebasan bersama.

    Dialog menjadi kunci dalam hubungan ini karena melalui dialog rakyat dapat memahami realitas sosial mereka secara kritis.

    2. Persatuan untuk Pembebasan

    Persatuan merupakan kebalikan dari strategi pecah belah yang digunakan oleh penindas. Dalam perjuangan pembebasan, rakyat harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi bersifat struktural dan hanya dapat diatasi melalui solidaritas kolektif.

    Pemimpin revolusi harus membantu rakyat melihat bahwa pengalaman penderitaan mereka sebenarnya memiliki akar sosial yang sama.

    3. Organisasi

    Freire menekankan bahwa pembebasan tidak terjadi secara spontan. Ia membutuhkan organisasi politik dan sosial yang memungkinkan rakyat berpartisipasi aktif dalam perubahan masyarakat.

    Namun organisasi ini tidak boleh bersifat otoriter. Ia harus tetap mempertahankan hubungan dialogis antara pemimpin dan rakyat.

    4. Sintesis Kebudayaan

    Sintesis kebudayaan adalah kebalikan dari serangan budaya. Dalam sintesis kebudayaan, pemimpin revolusi tidak memaksakan ideologi atau nilai mereka kepada rakyat. Sebaliknya, mereka bekerja bersama rakyat untuk mengembangkan kesadaran dan kebudayaan baru yang lahir dari pengalaman hidup rakyat sendiri.

    Dengan cara ini pembebasan tidak menjadi proses dominasi baru, tetapi proses transformasi bersama.