Penginapan Binatang Tour by Dongker: Rekreasi Liar dari Kenyataan Dunia yang Banal

Nyaris tak ada kabar baik dari negara. Situasi terasa semakin runyam, sementara kita seperti kebingungan menentukan apa atau siapa yang mesti dihantam terlebih dahulu. Thomas Hobbes, melalui Leviathan, membayangkan negara sebagai kekuasaan berdaulat yang menjamin keamanan dan mencegah manusia saling menghancurkan. Namun, bagaimana jika sang raksasa justru abai terhadap apa yang semestinya ia lindungi? Ketika negara gagal memberikan rasa aman, siapa yang bisa mengendalikan Leviathan?

Di tengah situasi semacam ini, bersenang-senang pun tak sesederhana kedengarannya. Apalagi in this economy. Tapibagi saya, menonton Dongker adalah salah satu tindakan yang bisa lolos dari banyaknya pilihan yang gugur. Sejak mendengar Menghibur Domba di Atas Puing EP mereka 2020, saya tertarik pada visual yang mereka bangun dan energi nakal yang meledak di venue gigs.

Karena itu, ketika kabar Penginapan Binatang Tour bersama BATDD beredar di media sosial, saya memutuskan berangkat ke Yogyakarta. Saya ingin menyaksikan bagaimana Melankolia Radikal, album terbaru Dongker yang dirilis pada 28 Agustus 2026, diolah ke dalam sebuah pertunjukan. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Santai Kawan Kopi menjadi tempat persinggahan tur tersebut.

Malam dibuka oleh Enjoy Drink, unit musik asal Sentolo, Kulon Progo, yang bergerak di antara emotive pop-punk, Midwest emo, dan post-hardcore. Mereka berhasil memanaskan suasana sebelum panggung beralih ke situasi yang lebih ganjil.

Giliran BATDD Bimbingan Anak Tersiap Di Dunia mengambil alih panggung. Band yang namanya juga akronim dari kelima personelnya—Bo’i (gitar), Andrew (drum), Tamaro (bass), Dea (vokal dan gitar), serta Dika (gitar dan vokal)—menghadirkan musik teatrikal dengan lirik-lirik tentang dongeng fabel, petualangan anak-anak, dan fantasi absurd. Dunia anak-anak menjadi semacam jalan memutar untuk merespons keruwetan kehidupan dewasa.

Penampilan mereka menyatu dengan tajuk tur malam itu‘’Penginapan Binatang’. BATDD mengajak penonton meninggalkan sejenak identitas kesehariannya sebagai WNI untuk menjadi WNT—Warga Negeri Tanggeria. Dunia rekaan tersebut menjadi ruang bermain yang dibangun melalui musik, gestur panggung, dan properti. Menjelang akhir penampilan, Dongker muncul dan berkolaborasi dengan BATDD, lengkap dengan atribut warga Tanggeria. Penginapan Binatang pun terasa lebih dari s nama tur: ada dunia yang  dibangun dan khalayak yang diajak masuk ke dalamnya. Sungguh absurd nan nikmat penampilanya…

Setelah itu, tibalah giliran Dongker, kelompok yang menjadi alasan sebagian besar orang berkumpul malam itu. Mereka membuka penampilan dengan pernyataan-pernyataan konfrontatif yang merespons situasi hari-hari ini, sebelum melontarkan energi yang segera menyambar ke tengah kerumunan. Orang-orang dengan balaclava warna-warni merangsek ke depan. Teriakan bersahutan, tubuh-tubuh saling berdesakan, dan lompatan menjadi pemandangan yang terus berulang. Di situasi ini, musik Dongker tak hanyadidengarkan, tetapi diladeni dengan seluruh tenaga yang tersisa. Beringas dan energik adalah cara orang-orang merespons Dongker malam itu, seolah setiap hentakan memberi alasan untuk meluapkan hal-hal yang sulit disalurkan di luar venue.

Dongker memainkan set panjang dengan energi yang nyaris tak memberi kesempatan bagi suasana untuk mendingin meski sesekali celotehan Arno menjadi alasan orang-orang untuk sejenak tertawa sembari mengambil nafas. 

Materi dari Melankolia Radikal bergantian dengan lagu-lagu yang lebih dahulu akrab di telinga pendengarnya, termasuk seingat saya “Merusak Kesenangan” dan “Bertaruh pada Api”. Menariknya, album yang bahkan belum genap berusia dua bulan itu sudah dinyanyikan bersama oleh banyak orang. Lagu-lagu yang relatif baru tersebut tak lagi terasa sebagai milik band semata. Nyaris semuanya hafal, fasih meneriakkan, dan berusaha menyaingi mikrofon Delphi dan Arno. Di antara distorsi gitar dan riuh kerumunan, batas antara mereka yang memainkan musik dan mereka yang menikmatinya terasa semakin tipis.

Lirik-lirik mereka yang nakal dan sekaligus personal tak lepas dari persoalan sosial yang lebih luas. Sementara musik, visual, dan penampilan panggungnya membentuk pengalaman yang saya rasa dipikirkan dengan matang. Orang-orang mengeluarkan suara yang selaras dan bersama. Untuk sesaat, kegelisahan yang biasanya ditanggung sendiri-sendiri menemukan bentuk kolektifnya.

Ayo pusing bersama, Lelah bukan tanda menyerah.. Ini kalimat yang muncul dibenak saya seketika. 

Jika bicara Punk-nya Dongker, tentu saja penampilan dan lagu-lagu mereka tidak serta-merta mengubah keadaan di luar venue. Setelah acara selesai panggung dibereskan, kita tetap harus kembali menghadapi pekerjaan, ongkos hidup, dan berbagai persoalan yang tak selesai dengan berteriak bersama. Tetapi setidaknya, malam itu orang-orang menemukan ruang untuk berkumpul dan berbagi kegelisahan tanpa harus menyembunyikannya.

Jadi, bagi saya Penginapan Binatang menawarkan persinggahan dari kenyataan yang banal. BATDD membawa penonton ke Tanggeria, sedangkan Dongker menghadirkan kegelisahan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari melalui Melankolia Radikal. Keduanya menawarkan cara berbeda untuk keluar sejenak dari rutinitas, tanpa harus berpura-pura bahwa persoalan di luar sana telah selesai.

Kembali pada pertanyaan pembuka. Apa dan siapa yang mesti dilawan? Saya tidak punya jawaban pasti. Situasi ini terlalu runyam Gila..semua orang gila, ayah ibuku juga. Rekreasi liar seperti malam itu memang tak akan meruntuhkan Leviathan. Namun, jika setelahnya kita bisa kembali menghadapi kenyataan dengan kesadaran bahwa kita tidak sendirian, mungkin selalu ada harapan yang layak diperjuangkan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top