Tilik Sarira Dalam Upaya Menubuhkan SURTI + 3 SAWUNGGALING

“1…2..3..”

Lampu menyorot ke panggung, di sana Surti terbaring berselimut kain mori, sejenak terlelap. Antara sadar dan tak sadar, ia menceritakan kisah hidupnya, tentang Jen-suaminya, kerenggangan rumah tangga mereka, serta perang yang berseliweran. Kemudian ia berdiri, sejenak merapikan baju sembari menggulung lembar demi lembar kain mori, menyingkap mayat Jen yang menjadi alasnya. Namun, (seolah) tak peduli, Surti beranjak, membawa gulungan mori di tangan kiri dan setangkai canting di bibir, sementara tangan kanan sedikit merapikan gelung yang berantakan, terus ke pojok panggung.

Di sini Surti bekerja, ditemani bau arang, dengan telaten ia menorehkan malam ke atas kain. Sebuah gandhulan bergelantung di hadapan, memori akan anaknya yang wafat terseret arus, sedang di belakang tiga kain bermotif burng sawunggaling dijemur berjejer. Inilah dunia Surti, tempat bekerja dan berbagi sambat ditemani seonggok mayat yang dulu adalah suaminya.

Sejenak Surti menyambung-mengilas balik, tentang keretakan hubungan dengan Jen, revolusi yang tak kunjung padam, dan segala kegelisahannya, hingga sayup-sayupterdengar panggilan burung sawunggaling. 

“Suuurti…Suuurti…”

Tak tahu dari mana, suara itu datang, mengingatkan Surti akan siapa dirinya, sebelum hilang kembali. Hening menyusul, tak lama Surti terpaku, namun segera diambilnya sehelai kain mori, diikat menutupi kepala dengan canting di bibir membentuk kepala burung. Demikian Surti berubah, bukan lagi buruh batik, tetapi burung sawunggaling itu sendiri. Ia mengepakkan sayap sambil sesekali memekik, terbang mengitari panggung, mengawali kisah masa lampau yang disajikan pentas malam ini.

Chapter 1: Awal Produksi 

Pentas telah usai, namun ruangan tak kunjung sepi. Riuh masih berlanjut, ada yang lalu lalang mencari pintu keluar, asyik berfoto ria, atau sekadar menyalami para aktor dan segenap tim produksi. Di tengah keriuhan ini ada Sophah Sophiyah Kosasih, sutradara sekaligus produser dari pementasan ini. Lulusan ISBI Bandung dan menyelesaikan studi penciptaan seni di ISI Surakarta, ia telah bergiat di dunia teater sejak tahun 2015 sebagai sutradara, aktor, juga manajemen pertunjukkan. Sejak tahun 2019, ia tergabung dalam Tilik Sarira Creative Process, sebuah kolektif dengan fokus pada produksi pertunjukkan teater interdisipliner, bersama kawan pegiat teater, Beri Hanna.

Begitu senggang, aku menghampiri Mbak Sophi, memperkenalkan diri dan kepentingan. Kami memutuskan untuk duduk di tribun paling bawah sembari membincangkan awal produksi pentas ini. Pentas ini sendiri, mengangkat naskah Goenawan Muhammad dengan judul yang sama “Surti+Tiga Sawunggaling”, pernah ditampilkan di Palu pada Desember 2025 dalam ajang Festival Teater Indonesia. Meski tidak ada kaitan langsung, naskah ini dipilih kembali setelah melalui tahap kurasi dalam agenda Permac Lab (Performer and Actor Laboratorium), di mana sejumlah naskah lain dan lagu juga ditawarkan.

Selepas diskusi panjang bersama Beri Hanna selaku penulis adaptasi dan dramaturgi, naskah ini dipilih mengingat relevansinya dengan kondisi politik masa kini. Latar perang revolusi diangkat untuk mencakup kondisi masa kini, kala kondisi negara runyam, kekerasan antar-sipil kerap bahkan lumrah terjadi. Lagi-lagi masyarakat menjadi korban, sebagaimana tokoh Surti, seorang buruh yang tidak pernah terlibat perang secara langsung,  namun harus menanggung beban dari segala keputusan suaminya serta kekerasan yang mengelilingi mereka.

Adaptasi ini juga, agak bertolak dari naskah aslinya, menaruh tekanan pada peran Surti alih-alih Jen sebagai suami. Femininitas Surti juga diolah menjadi kuasa resistensi-transformatif terhadap segala kukungan, baik harfiah maupun simbolis, yang membatasinya. Setiap keputusan, entah membatik, sembahyang, bahkan bermimpi, menandai kuasa Surti atas narasinya sendiri. Bahwa dalam posisi yang seolah-olah pasif, Surti justru tampil sebagai simbol perdamaian, jauh melebihi segala keterlibatan sekaligus kebanggaan Jen akan gerilya-nya.

Chapter 2: Proses Produksi 

Sejak awal pentas ini telah dirumus sebagai produksi interdisipliner yang melibatkan banyak krew dari berbagai bidang, khususnya anak-anak ISI. Setiap bidang, baik aktor, artistik, properti, pencahayaan, dsb memiliki andil bahkan berhak untuk menafsirkan naskah menurut kebutuhan dan spesialisasi masing-masing. Berangkat dari konsep alih wahana, setiap bidang justru dituntut untuk mentransfer naskah sesuai kreatifitas dan sudut pandang mereka, alih-alih terpaku pada arahan sutradara.

Percakapan dengan pemeran Surti, Andriani Nur Palupi, lulusan Prodi Teater ISI Surakarta, mengungkap hal serupa.Mbak Palupi sendiri mengungkap sulitnya memerankan tokoh Surti. Bagaimana ia pertama-tama melakukan komparasi antara novel dengan naskah teater-melalui suatu proses diskusi panjang-sebelum dapat mendefinisikan tokoh Surti. Dalam mempertimbangkan tiap gerak dan tindakan, Mbak Palupi juga menarik pada tokoh Surti, hubungannya dengan Jen, segala trauma, juga apa benang merahnya dengan kondisi perempuan masa kini.

Tema surealis naskah juga membawa kesulitan tersendiri dalam memerankan Surti. Mbak Palupi tidak memungkiri ia harus memainkan kreatifitas olah tubuh untuk bisa menangkap esensi trauma Surti kemudian menerjemahkannya pada penonton tanpa mereduksi kemanusiaannya. Akhirnya, bagaimana kegelisahan Surti, yang terejawantahkan dalam berbagai episode mimpi bersama tiga burung sawunggaling, dapat tetap dipahami dan relate dengan pengalaman para penonton, khususnya penonton perempuan.

Kesulitan lain yang harus diatasi dalam produksi interdisipliner ini adalah menghindari tumpang tindih antar bidang. Di sini, sutradara berperan, bukan sebagai komandan, tetapi sebagai kurator. Layaknya kurator, sutradara menghimpun tawaran dari setiap bidang sebelum memberikan masukan bagi eksekusi di panggung. Guna menghindari kerancuan, naskah adaptasi digunakan sebagai patokan. 

Soal keberdayaan ini ditekankan selama proses produksi-kurang lebih satu bulan-hingga pementasan. Masing-masing krew mampu bahkan berhak untuk menafsirkan naskah menurut kebutuhan dan kreatifitas mereka sendiri tanpa harus takut saling bertolakan. Tanpa menyekat siapa yang lebih tinggi atau rendah, masing-masing bidang memiliki peran dalam keberlangsungan pentas ini.

Chapter 3: Penampilan dan Respons Penonton

Suatu pentas bisa berjalan lancar, entah teknikalitas maupun performanya, namun, tak  boleh dilupakan juga, respons para penonton yang menyaksikan. Selepas berbincang dengan Mbak Sophi dan Mbak Palupi, aku mencuri kesempatan untuk menyanyai sejumlah penonton tentang pentas yang telah disaksikan. Momen spontan ini  mengungkap keragaman tanggapan mereka, ada punjian, namun kritik juga tak luput. 

Seorang mahasiswa menyampaikan pujiannya terhadap karya ini. Baginya, ini merupakan pengalaman pertama menonton pentas non-realis sehingga cukup mengejutkan. Pujian utama justru tidak ditujukan pada besarnya  skala produksi atau teknikalitas panggung, tetapi eksplorasi olah tubuh masing-masing aktor, Surti secara khusus, walau-ungkapnya- kadang absurd, namun mampu menyampaikan secara gamblang pesan yang hendak disampaikan.

Percakapan dengan seorang penonton lain, mahasiswi, justru mengungkap perspektif lain. Menurutnya, keseluruhan pentas patut dipuji, namun penggambaran tokoh Surti patut dikritisi karena dinilai masih terlalu pasif, bahkan belum mencerminkan pesan kuasa keperempuanan yang hendak disampaikan. Senada, penonton lain, seorang pekerja pria, mengkritik beberapa keputusan pentas yang malah mengaburkan cerita. Misal, keputusan untuk  mengubah ketiga burung sawunggaling menjadi korban-korban perempuan Jen yang secara nyata menghantui pikiran Surti, berbeda dari naskah aslinya.

Terlepas segala respons, entah pujian atau kritik, bisa dipastikan bahwa pentas ini tetap meninggalkan kesan. Sulit menyangkal bahwa apa yang ditampilkan, khususnya dari Surti dan kisah hidupnya, memiliki relevansi dengan kekerasan yang dialami perempuan masa kini, meski ia dibungkus dalam balutan surealis.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top