Como 1907: Sepak Bola dan Kota

Ada hubungan apa antara sebuah klub sepak bola dan kota yang namanya mereka bawa?

Hampir semua klub sepak bola memakai nama kota sebagai identitas. Awalnya, hal ini mungkin hanya bersifat fungsional klub membutuhkan tempat untuk bermain dan berlatih. Namun, seiring waktu, hubungan teknis tersebut berkembang menjadi ikatan identitas antara klub dan ruang kota.

Hubungan itu terlihat jelas pada Como 1907. Stadion Giuseppe Sinigaglia berdiri di tepi Danau Como dan telah menjadi kandang klub selama hampir satu abad. Stadion tersebut diresmikan pada 1927 dan dinamai Giuseppe Sinigaglia, atlet dayung asal Como yang gugur dalam Perang Dunia I. Dalam catatan sejarahnya, Como 1907 menyebut Sinigaglia sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kota tersebut.

Artinya, hubungan Como dengan kotanya bukan sesuatu yang baru dibangun oleh manajemen sekarang. Keterhubungan itu telah tertanam dalam sejarah dan ruang kota. Yang menarik adalah bagaimana hubungan tersebut kemudian dibaca ulang ketika Como 1907 dibangun kembali.

Pada 2017, Como mengalami persoalan finansial dan turun ke Serie D. Dua tahun kemudian, klub diambil alih oleh kelompok yang berada di bawah Djarum. Como kemudian kembali ke Serie A pada 2024 setelah absen selama 21 tahun. Reuters kantor berita internasional besar asal Inggrismelaporkan bahwa kebangkitan klub tersebut tidak hanya dipandang sebagai proyek olahraga, tetapi juga bagian dari strategi bisnis yang lebih luas di bidang perjalanan, fesyen, media, dan gaya hidup dengan Como sebagai pusatnya.

Manajemen klub tidak perlu menciptakan identitas baru. Kota Como sudah memiliki danau, arsitektur, hotel, restoran, dan reputasi internasional sebagai destinasi wisata. Yang dilakukan adalah mempertemukan daya tarik tersebut dengan sepak bola.

Contoh paling jelas adalah SENT Tourism. Pada 2025, Como meluncurkan operator wisata yang mengemas pertandingan bersama pengalaman di Danau Como, mulai dari paket hospitality hingga tur budaya, vila, yacht, dan perjalanan dengan seaplane. Dalam pengumumannya, Como 1907 menyebut sepak bola sebagai pintu masuk untuk mengalami Italia melalui Como.

Akibatnya, pertandingan tidak lagi berhenti pada sembilan puluh menit. Orang datang bukan hanya untuk menonton Como bermain, tetapi juga untuk mengalami tempat di mana pertandingan itu berlangsung.

Fenomena ini lebih dari sekadar sport tourism. Yang ditawarkan adalah pengalaman ruang: pertandingan, danau, budaya, hospitality, dan gaya hidup dipertemukan dalam satu paket. Como memiliki keunggulan yang sulit ditiru karena tidak semua klub bermain di tempat yang telah memiliki daya tarik wisata sebesar Danau Como.

Jika kota dapat membantu membesarkan klub, apakah klub juga ikut membangun kota?

Hubungan antara keduanya mudah berjalan satu arah. Kota menyediakan sejarah, ruang, pemandangan, dan kehidupan sosial; klub kemudian dapat mengubah sebagian dari semua itu menjadi nilai ekonomi. Dalam bentuk paling ekstrem, kota hanya menjadi latar belakang bisnis sepak bola. Danau menjadi materi promosi, stadion menjadi pengalaman wisata, sementara kehidupan lokal menjadi bagian dari sesuatu yang dikonsumsi pengunjung.

Karena itu, program Vicini di Casa menjadi menarik. Program ini memberikan tiket gratis kepada warga yang tinggal di sekitar Stadion Sinigaglia. Como 1907 menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada warga yang harus menghadapi berbagai konsekuensi aktivitas pertandingan, terutama pengaturan keamanan dan perubahan situasi di sekitar stadion.

Tentu, beberapa tiket gratis tidak menyelesaikan persoalan kota yang lebih besar. Namun, prinsipnya penting bahwa klub mengakui bahwa stadion hidup sebagai bagian dari sebuah kota secara utuh. Warga tidak hanya dipandang sebagai konsumen yang membeli tiket atau memenuhi tribun. 

Hubungan tersebut juga diperluas melalui kerja sama dengan Teatro Sociale di Como. Kemitraan ini telah berlangsung sejak 2021 dan mempertemukan olahraga dengan kebudayaan melalui kegiatan bersama, termasuk program yang menyasar sekolah dan anak muda. 

Hal semacam ini penting karena sepak bola memiliki sesuatu yang tidak selalu dimiliki perusahaan biasa yakni rasa memiliki. Orang tidak sekadar membeli produk klub. Mereka dapat menjadi pendukung, tetangga kota, dan bagian dari sejarahnya.

Karena itu, pembangunan klub tidak semestinya hanya diukur melalui transfer pemain, sponsor, atau nilai komersial. Misalnya apa yang terjadi pada kota ketika klub tersebut tumbuh?

Menyusul lesatan performa klub akhirnya Stadion Sinigaglia dikembangkan untuk memenuhi standar kompetisi Eropa. Pada 2026, Como 1907 mengumumkan bahwa stadion tersebut telah disetujui untuk menjadi kandang pertandingan Liga Champions musim 2026/27 setelah dilakukan berbagai peningkatan fasilitas dan infrastruktur. Pilihan ini menarik sebab Como tetap mempertahankan posisinya dengan kesadaran akan kebutuhan warga untuk menyaksikan pertandinganya. Sebab pilihan melakukan renovasi dalam kurun waktu yang cukup singkat tentu bukan keputusan yang bisa diambil dalam waktu begitu singkat.

Tentu, klub tidak harus menjadi pemerintah kota atau memikul seluruh persoalan masyarakat. Tetapi ketika sebuah klub membawa nama kota, pertanyaan tentang tanggung jawab terhadap tempat tersebut menjadi sulit dihindari.

Como menunjukkan salah satu kemungkinan. Mereka sedang mencoba membuat sepak bola menjadi lebih dari pertandingan, sementara kota menjadi lebih dari sekadar latar belakang pertandingan.

Pada akhirnya, Como seolah berujar bahwa membangun klub tidak cukup hanya membangun kesebelasan. Membangun klub juga berarti membangun hubungan juga dengan kota yang membuat nama klub itu memiliki identitas kuat sosial maupun historis.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top