Soloensis : Santiago sang penggembala dan keberaniannya

Mengapa manusia begitu sering membayangkan hidup melalui sosok penggembala?
Selama berabad-abad, penggembala hadir dalam kitab suci, mitologi, dan sastra sebagai gambaran yang didekatkan dengan misalnya kepemimpinan, kesetiaan, serta pencarian makna hidup. Dalam “Penggembala”, single Soloensis yang dirilis pada 3 Desember 2021, sosok itu kembali muncul. Kisahnya sederhana, pendek penangkapan saya lagu ini lebih pada bagaimana seseorang mengamati si penggembala.
“Termangu aku pada setianya penggembala” begitu lagu ini di buka. Ada jarak pada caranya mengatakan; si “aku” bukan penggembala itu, melainkan orang yang mengamatinya. Si “aku”, mungkin melihat yang belum dimilikinya sendiri lalu muncul kekaguman, kemudian menjadi kerinduan terhadap entah. Jadi, mari kita bahas ke-entahan itu.
Penggembala seperti sedang dilihat menjadi gambaran tentang cara hidup yang ingin dipahami. Demikianlah lagu ini mengingatkan saya pada Santiago, tokoh utama novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Santiago adalah penggembala muda yang meninggalkan kesehariannya dalam hidup untuk mengejar mimpi tentang harta karun. Ia mengembara, untuk menjalani petualangan; menghadapi pertemuan, kehilangan, ketakutan, kasih, cinta dan perlahan membawa kesadaran bahwa perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, ada perbedaan penting antara Santiago dan sosok dalam lagu Soloensis. Santiago berangkat untuk mencari sesuatu yang belum ia miliki, sedangkan si aku dalam “Penggembala” justru merindukan keteguhan seseorang yang seolah telah menemukan cara untuk menjalani hidup. Dan begitulah juga perasaan saya ketika mendengar lagu ini seolah sedang melihat Santiago dalam novel The Alchemist. Seorang muda yang telah menjalani jauh berjalan dan melihat beragam cerita dari sosok-sosok yang ia temui dalam perjalanannya.
Santiago “Penggembala” mengantarkan pembaca pada kesadaran bahwa hidup seolah selalu menuntut keberanian, baik untuk pergi jauh atau justru untuk terus menjalani yang telah dipilih. Kisah Santiago adalah salah satu dari banyaknya kisah tentang sosok penggembala. Dalam banyak kebudayaan penggembala juga erat kaitanya dengan cerita bernada reflektif.


Mengapa penggembala terus hadir dalam imajinasi manusia?

Perjalanan Soloensis Menuju Penggembala


Padang lapang yang tak terbatas, keberanian macam apa yang layak menjadi bekal


Melempar pandang hari-hari ini, musik populer menjadi ruang untuk membicarakan kecemasan, kesepian, kelelahan, dan kesehatan mental. Musik menjadi sarana untuk mengenali emosi dan menemukan bahasa bagi pengalaman yang sulit dijelaskan. Kalau kata Bambang Sugiharto dalam kuliahnya “seni musik adalah upaya memperdengarkan yang nyaris tak terdengar”.
Kemudian lagu “Penggembala” ini menawarkan jenis perenungan yang sedikit berbeda. Lagu ini tidak harus dibaca sebagai lagu tentang kesehatan mental, apalagi sebagai resep untuk mengatasi masalah psikologis. Ia lebih dekat pada pertanyaan mengenai bagaimana seseorang bertahan di tengah ketidakpastian dan bagaimana ia menemukan sesuatu yang layak dijadikan pegangan. Sepertinya lagu ini dilempar begitu saja dan tafsir bisa didekatkan sendiri oleh pendengar secara personal.
Disini mungkin kekuatan utama lagu itu, Ia tidak mengharuskan pendengar memilih antara menjadi manusia yang rapuh atau menjadi sosok yang tangguh. Kerentanan dan keberanian bisa hadir bersamaan. Mengagumi penggembala pun berarti mengakui adanya jarak antara kehidupan yang dijalani sekarang, masa lalu dan kehidupan yang ingin dicapai.
Seperti Alchemist Santiago harus berani meninggalkan tempat yang dikenalnya. Sedangkan “Penggembala” dalam Soloensis lebih menggambarkan kesetiaannya menjalani jalan yang dipilih. Keduanya menawarkan dua wajah keberanian. Pergi ketika perubahan diperlukan, dan bertahan ketika sesuatu memang layak diperjuangkan. Di tengah kehidupan yang semakin kabur batas antara dunia digital dan pengalaman nyata, keadaan bisa berubah lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya.
“Penggembala”, mempertemukan metafor lama yang berulang dalam imajinasi peradaban dengan kegelisahan yang dirasakan hari ini. Dan Soloensis menyampaikannya tanpa harus menanggalkan watak rock mereka. Sebagai pendengar, Soloensis saya labeli “rock titik renung”. Akhirnya, saya merekomendasikan lagu ini untuk menemani petualanganmu menjalani hari dan juga novel The Alchmeist sebagai teman malam yang mengajakmu berpetualang dalam imajinasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top