
foto: @soloensisofficial/instagram
Mengapa manusia begitu sering membayangkan hidup melalui sosok penggembala?
Selama berabad-abad, penggembala hadir dalam kitab suci, mitologi, dan sastra sebagai gambaran yang didekatkan dengan misalnya kepemimpinan, kesetiaan, serta pencarian makna hidup. Dalam “Penggembala”, single Soloensis yang dirilis pada 3 Desember 2021, sosok itu kembali muncul. Kisahnya sederhana, pendek penangkapan saya lagu ini lebih pada bagaimana seseorang mengamati si penggembala.
“Termangu aku pada setianya penggembala” begitu lagu ini di buka. Ada jarak pada caranya mengatakan; si “aku” bukan penggembala itu, melainkan orang yang mengamatinya. Si “aku”, mungkin melihat yang belum dimilikinya sendiri lalu muncul kekaguman, kemudian menjadi kerinduan terhadap entah. Jadi, mari kita bahas ke-entahan itu.
Penggembala seperti sedang dilihat menjadi gambaran tentang cara hidup yang ingin dipahami. Demikianlah lagu ini mengingatkan saya pada Santiago, tokoh utama novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Santiago adalah penggembala muda yang meninggalkan kesehariannya dalam hidup untuk mengejar mimpi tentang harta karun. Ia mengembara, untuk menjalani petualangan; menghadapi pertemuan, kehilangan, ketakutan, kasih, cinta dan perlahan membawa kesadaran bahwa perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, ada perbedaan penting antara Santiago dan sosok dalam lagu Soloensis. Santiago berangkat untuk mencari sesuatu yang belum ia miliki, sedangkan si aku dalam “Penggembala” justru merindukan keteguhan seseorang yang seolah telah menemukan cara untuk menjalani hidup. Dan begitulah juga perasaan saya ketika mendengar lagu ini seolah sedang melihat Santiago dalam novel The Alchemist. Seorang muda yang telah menjalani jauh berjalan dan melihat beragam cerita dari sosok-sosok yang ia temui dalam perjalanannya.
Santiago “Penggembala” mengantarkan pembaca pada kesadaran bahwa hidup seolah selalu menuntut keberanian, baik untuk pergi jauh atau justru untuk terus menjalani yang telah dipilih. Kisah Santiago adalah salah satu dari banyaknya kisah tentang sosok penggembala. Dalam banyak kebudayaan penggembala juga erat kaitanya dengan cerita bernada reflektif.
Mengapa penggembala terus hadir dalam imajinasi manusia?

foto: pinterest/https://pin.it/3tmewaQ6S
Penggembala bukan figur yang hanya dalam novel Coelho atau lagu Soloensis. Dalam sejarah berbagai peradaban, ia berulang kali muncul sebagai lambang pemeliharaan, kepemimpinan, dan tanggung jawab. Jørn Varhaug (2019), misalnya, menunjukkan bahwa metafora penggembala dan raja-penggembala telah dikenal dalam tradisi Asyur, Babilonia, Mesir, dan teks-teks kuno lainnya. Dalam sejumlah tradisi keagamaan, gambaran ini juga berkembang untuk menjelaskan hubungan antara pemimpin, Tuhan, dan orang-orang yang berada dalam perlindungannya.
Seperti dalam Alkitab, gambaran penggembala muncul kuat dalam Mazmur 23 dan berbagai bagian lain yang membicarakan Tuhan sebagai gembala. Dalam tradisi Islam, gambaran serupa hadir melalui hadis “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi”, yang berarti setiap orang adalah pemimpin atau pemelihara dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka yang berada dalam pengurusannya (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini, misalnya, mengibaratkan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya, termasuk dalam lingkup kecil misal keluarganya. Penggembala di sini bukan sekadar sosok yang menjaga kawanan, melainkan contoh penempatan tugas tentang amanah dan tanggung jawab. Sementara itu, dalam kisah peradaban lainya, metafora penggembala-raja sering membantu untuk menggambarkan penguasa sebagai sosok yang bertugas menjaga kelompoknya, bukan semata-mata memerintah.
Tentu, semua tradisi itu tidak sama dan tidak dapat disatukan begitu saja. Penggembala dalam teks keagamaan, simbol politik kerajaan kuno, dan tokoh pengembara dalam sastra memiliki konteks masing-masing. Namun, pengulangan figur tersebut memperlihatkan sesuatu yang menarik secara antropologis yaitu manusia kerap menggunakan hubungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari untuk membayangkan persoalan yang lebih besar. Merawat kawanan, mencari padang rumput, menghadapi cuaca, dan menjaga agar tidak ada yang tertinggal menjadi gambaran konkret bagi pertanyaan tentang tanggung jawab, arah hidup, dan ketidakpastian.
Pada “Penggembala”, simbol itu dimainkan kembali. Sosok yang dikagumi bukan terutama pemimpin yang melindungi orang lain, melainkan seseorang yang memiliki keteguhan dalam menjalani hidupnya. Baris lirik “Tak terikat tak terjerat jalannya dunia” menghadirkan bayangan tentang kebebasan dari tarikan dunia yang membuat manusia mudah kehilangan arah. Akan tetapi, kebebasan itu tidak harus berarti mengasingkan diri atau menolak segala sesuatu. Bisa jadi, yang dirindukan adalah kemampuan untuk tetap memiliki pegangan tanpa harus selalu tunduk pada tuntutan di sekelilingnya.
Perjalanan Soloensis Menuju Penggembala

foto: soloensis.blogspot.com
Mari kita coba baca lebih lanjut dalam perjalanan musikal Soloensis. Album debut Self Titled yang dirilis pada 2014 memperlihatkan energi rock dengan riff gitar yang kuat, tempo cepat, dan melodi tajam garang. Led Zeppelin pernah disebut sebagai salah satu referensi musikal mereka selain itu juga AC/DC dalam dominasi permainan gitar dan Motorhead dengan kesan rock garangnya , sementara pada wilayah penulisan lirik lebih pada lugas dan tegas khas muda mudi yang sedang mencari jati diri pada fase dewasa awal.
Berlanjut melalui Berlapis album kedua 2020, Soloensis memperluas dimensi musikalnya. Lirik berbahasa Indonesia dengan tema yang reflektif menjadi kekuatan tanpa meninggalkan kekhasan rock yang menjadi embrio mereka sementara vokal yang lebih melodis membuat lirik memperoleh tempat lebih besar di dalam aransemen. Maktub, lagu-lagunya seperti menggambarkan perjalanan hidup seorang pemuda rock and roll yang sedang mencari makna atas dunia dan hidupnya. Rock Soloensis pun terasa bergerak ke arah yang lebih berlapis. Album itu menawarkan perenungan alih-alih kebenaran sejati yang diujarkan sebagai sebuah kotbah.
Sementara “Penggembala” dirilis sebagai single tersendiri setelah Berlapis. Jika dua rilisan sebelumnya membantu memperlihatkan perubahan teknis cara Soloensis mengolah rock dan bahasa, single ini menarik perhatian melalui pertemuan antara energi musik dan cara bertutur yang lebih matang. Selain itu pada single ini mereka seperti menegaskan keunikanya, dimana Rock tidak harus selalu mengandalkan kemarahan yang diarahkan keluar. Ia juga bisa menjadi tempat untuk menguji kegelisahan sendiri, tanpa kehilangan unsur keren dan nyentriknya.
Pada lirik “Berani hidup haruslah tak takut mati / Bila takut mati, janganlah hidup / Jikalau takut hidup, ya, matilah saja!” Kalimat itu terkesan keras, bahkan provokatif khas muda mudi. Menantang, seolah hidup menuntut keberanian yang tidak bisa ditawar. Namun, baris itu juga menegaskan bahwa keberanian bukan berarti ketiadaan rasa takut, melainkan kesediaan untuk tetap melangkah meski ketakutan tidak pernah benar-benar hilang.
Padang lapang yang tak terbatas, keberanian macam apa yang layak menjadi bekal

foto: https://www.caknun.com/2021/soloensis-mendengungkan-wani-dan-cah-angon
Melempar pandang hari-hari ini, musik populer menjadi ruang untuk membicarakan kecemasan, kesepian, kelelahan, dan kesehatan mental. Musik menjadi sarana untuk mengenali emosi dan menemukan bahasa bagi pengalaman yang sulit dijelaskan. Kalau kata Bambang Sugiharto dalam kuliahnya “seni musik adalah upaya memperdengarkan yang nyaris tak terdengar”.
Kemudian lagu “Penggembala” ini menawarkan jenis perenungan yang sedikit berbeda. Lagu ini tidak harus dibaca sebagai lagu tentang kesehatan mental, apalagi sebagai resep untuk mengatasi masalah psikologis. Ia lebih dekat pada pertanyaan mengenai bagaimana seseorang bertahan di tengah ketidakpastian dan bagaimana ia menemukan sesuatu yang layak dijadikan pegangan. Sepertinya lagu ini dilempar begitu saja dan tafsir bisa didekatkan sendiri oleh pendengar secara personal.
Disini mungkin kekuatan utama lagu itu, Ia tidak mengharuskan pendengar memilih antara menjadi manusia yang rapuh atau menjadi sosok yang tangguh. Kerentanan dan keberanian bisa hadir bersamaan. Mengagumi penggembala pun berarti mengakui adanya jarak antara kehidupan yang dijalani sekarang, masa lalu dan kehidupan yang ingin dicapai.
Seperti Alchemist Santiago harus berani meninggalkan tempat yang dikenalnya. Sedangkan “Penggembala” dalam Soloensis lebih menggambarkan kesetiaannya menjalani jalan yang dipilih. Keduanya menawarkan dua wajah keberanian. Pergi ketika perubahan diperlukan, dan bertahan ketika sesuatu memang layak diperjuangkan. Di tengah kehidupan yang semakin kabur batas antara dunia digital dan pengalaman nyata, keadaan bisa berubah lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya.
“Penggembala”, mempertemukan metafor lama yang berulang dalam imajinasi peradaban dengan kegelisahan yang dirasakan hari ini. Dan Soloensis menyampaikannya tanpa harus menanggalkan watak rock mereka. Sebagai pendengar, Soloensis saya labeli “rock titik renung”. Akhirnya, saya merekomendasikan lagu ini untuk menemani petualanganmu menjalani hari dan juga novel The Alchmeist sebagai teman malam yang mengajakmu berpetualang dalam imajinasi.