Menjaga Esensi Seni Kriya dalam Gempuran Arus Modernisasi Era Digital Melalui Perhelatan SURPRISE #15

Pada rentang 17 hingga 19 September 2026, Program StudiKriya Institut Seni Indonesia Surakarta menjadi tuan rumah pelaksanaan Festival Seni Kriya Nasional dan Kompetisi Mahasiswa SURPRISE KE-15. Agenda tahunan skala nasional yang berjalan di bawah naungan Forum Komunikasi Mahasiswa Kriya Indonesia (FKMKI). Di tengah derasnya arus visual modern yang serba instan, gelaran kali iniberfungsi sebagai ruang jeda untuk melihat kembali sejauh mana mahasiswa kriya hari ini menjaga kedekatan dengan akar tradisinya.

Ketika kebudayaan bergerak cepat menuju era digital, produk kriya sering kali dinilai secara sempit hanya sebagai komoditas fungsional yang dibuat secara massal. Melalui agenda ini, mahasiswa kriya dari berbagai wilayah di Indonesia mencoba mengambil kembali ruang ekspresi tersebut. Membuktikan bahwa material yang diolah langsung oleh tangan manusia memiliki posisi penting sebagai media ekspresi kritis, eksperimen kreatif, serta upaya menghidupkan kembali nilai-nilai lokal di masyarakat.

Menelusuri Makna Tangi, Sabda, Sanubari

Eksplorasi gagasan dalam SURPRISE #15 bertumpu padapayung konseptual yang dipilih oleh panitia, yaitu “tangi, sabda, sanubari”. Ketiga kata ini memiliki landasan berpikir yang jelas dan saling terhubung satu sama lain.

Kata “tangi” diartikan sebagai proses pembangunan atau penyadaran kembali. Kalimat ini merupakan ajakan bagi paraperupa untuk sadar terhadap nilai kebudayaan di tengah kuatnya pengaruh globalisasi. Kesadaran yang mulai tumbuh tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk “sabda”, yangmewakili panggilan atau warisan luhur dari para pendahulu. Proses kebangkitan dan tanggapan terhadap tradisi ini ditegaskan harus muncul dari “sanubari”, yang berarti lubuk hati yang paling dalam. Melalui kerangka berpikir ini, para seniman kriya dituntut untuk mampu menyaring kebisingan trend visual agar dapat menemukan esensi etis dan estetis yang bersumber dari kejujuran pikirannya sendiri.

Saat ditemui di lokasi pameran, Dayung Lampahsae,Mahasiswa Kriya ISI Surakarta yang bertindak sebagai Ketua Pelaksana Kegiatan SURPRISE #15, menjelaskan fokus utama dari agenda tahun ini.

“Tema Kegiatan pada tahun ini adalah tangi, sabda, sanubari yang memfokuskan bahwa kriya bukan sekedar produkfungsional melainkan media ekspresi kritis, eksperimental,dan revitalisasi kesadaran nilai lokal,” ujar Dayung.

Bagi Dayung dan seluruh kepanitiaan yang terlibat, pameranini berfungsi sebagai ruang pembuktian. Kriya tidak boleh berhenti pada batas pajangan visual yang estetis semata, melainkan harus mampu menyampaikan pesan dan mengembalikan ingatan kolektif masyarakat pada nilai dasar tempat mereka hidup.

Eksplorasi Material dan Sinergi Lintas Kampus

Salah satu kekuatan utama dari penyelenggaraan SURPRISE #15 ini adalah kolaborasi nyata antarkampus seni. ISISurakarta selaku tuan rumah membangun kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia. Beberapa institusiyang terlibat aktif sebagai kolaborator antara lain ISI Yogyakarta, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ISBI Bandung, serta dua kampus dari Institut Teknologi Bandung, yaitu ITB Kampus Ganesha dan ITB Kampus Cirebon. Hubungan kerja sama lintas akademika ini berhasil menghadirkan keragaman bentuk karya di dalam Pendopo Ageng ISI Surakarta.

Secara keseluruhan, terdapat 80 karya mahasiswa yang lolos proses kurasi untuk dipamerkan kepada publik. Keberagamanide dari para peserta terlihat jelas dari variasi medium rupa yang dipasang, meliputi karya kriya dua dimensi (2D), tiga dimensi (3D), hingga bentuk instalasi yang merespons sudut ruang pameran.

Para mahasiswa kriya yang terlibat dalam pameran ini terlihattidak lagi membatasi diri pada bahan konvensional yang kaku.Mereka memperluas eksplorasi pada berbagai jenis material baru, termasuk pemanfaatan material limbah dan bahan alternatif lainnya. Bahan-bahan tersebut diolah dengan memadukan teknik manual yang membutuhkan ketekunan tinggi dengan gaya visual modern. Pemilihan material limbah ini bukan sekadar mengikuti trend ramah lingkungan, melainkan taktik untuk menerjemahkan gagasan kebangkitan budaya serta suara hati ke dalam wujud visual kontemporer yang tidak meninggalkan karakter tradisinya.

Dayung menyebutkan bahwa model integrasi acara inilah yang menjadi nilai pembeda utama antara SURPRISE #15 dengan kegiatan pameran lainnya.

“Perbedaan nya terletak pada integrasi antara pameran seni lintas kampus nasional dengan ruang konsolidasi Forum Komunikasi Mahasiswa Kriya Indonesia (FKMKI),” kata Dayung menambahkan.

Melalui konsep ini, kegiatan memiliki fungsi ganda. Pada satu sisi, ia menjadi ruang apresiasi seni bagi publik luas,sementara di sisi lain berfungsi sebagai wadah pertemuan organisasi mahasiswa untuk merumuskan arah gerakan FKMKI ke depan.

Tantangan Teknis Lapangan dan Antusiasme Publik

Meskipun hasil akhir pameran terlihat rapi, pelaksanaan SURPRISE #15 didahului oleh proses persiapan lapangan yang panjang dan menantang. Panitia menghadapi berbagai kendala teknis, mulai dari penyusunan jadwal kerja, riset kampus, hingga pengelolaan tata letak pameran. Kendala-kendala teknis tersebut akhirnya dapat diselesaikan dengan baik berkat kerja sama tim yang solid.

“Persiapannya sudah dimulai cukup lama dan penuh dengan tantangan teknis mulai dari penyusunan jadwal, riset kampus, hingga manajemen pameran. Namun semua dapat terlewatiberkat kerja keras kolektif panitia, sinergi lintas kampus, dankomitmen bersama untuk menyukseskan acara SURPRISE #15 ini,” jelas Dayung.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan teratur sesuai rencanapanitia. Acara diawali dengan pembukaan resmi, prosesi kebudayaan, lokakarya keterampilan kriya, hingga diskusi internal FKMKI. Diskusi organisasi ini difokuskan untukmembahas rekonstruksi internal serta penentuan lokasikampus yang akan menjadi tuan rumah agenda berikutnya.

Seluruh kegiatan ditutup secara resmi pada malam penutupan. Respons masyarakat terhadap kegiatan ini tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data meja registrasi panitia, tercatat kurang lebih sekitar 1.600 pengunjung datang ke lokasi pameran selama 3 hari pelaksanaan acara. Jumlah ini menunjukkan adanya minat yang konsisten dari mahasiswa maupun masyarakat umum untuk melihat langsung perkembangan karya kriya.

Membangun Keberlanjutan FKMKI

Penyelenggaraan SURPRISE #15 bukan sekadar ajangpameran seni, melainkan harapan nyata dari mahasiswa kriya se indonesia terkait keberlanjutan ekosistem seni kriya ke depan. Hubungan kerja sama yang terjalin antar-mahasiswa seni se-Indonesia menjadi modal penting untuk menjaga konsistensi gerakan FKMKI.

Tujuan utama dari agenda tahunan ini adalah tetap menjadi wadah yang konsisten bagi mahasiswa kriya di Indonesia untuk melakukan eksperimen karya secara merdeka. Harapan ke depannya, “kegiatan SURPRISE #15 dapat terus memperkuat jejaring kolaborasi antarkampus serta memperluas dampak nyata dari karya kriya mahasiswa, baik di ruang publik maupun di dalam sektor industri kreatif nasional tanpa kehilangan nilai-nilai lokal dasarnya.” Ujar Dayung sebagai penutup.

Ditulis oleh: Arif Sri Wahyudi (Arp)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top