Sandilara: Sebentuk Upaya Merawat Teater Agar Terus Hidup dan Menghidupi


Jika seni merupakan bagian dari pengalaman hidup sehari-hari, mengapa ia kerap dianggap berjarak dari dunia sosial yang mengasuhnya? Pertanyaan itu terasa menemukan jawabannya dalam perjalanan Teater Sandilara, sebuah komunitas teater yang telah tumbuh selama 13 tahun di Surakarta.


Benih Asa Teater Sandilara
Idham Ardi Nurcahyo, seniman kelahiran sukoharjo yang kini menekuni bidang sutradara dan penulis lakon di Teater Sandilara. Ketertarikan Idham dengan teater bermula sejak duduk di bangku SMA, disitu ia mulai merasakan potret kehidupan sehari hari yang dituangkan secara indah dalam bentuk seni pertunjukan.

Melanjutkan studi di Universitas Sebelas Maret pada tahun 2010, Idham mengambil jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Di kampus, ia bergabung dengan UKM Teater Tesa. Dari ruang tersebut ia mulai bermain sekaligus menyutradarai pertunjukan hingga kemudian dipercaya menjadi ketua UKM.

Perjalanannya di UKM Teater Tesa menjadi pengalaman penting yang membentuk cara pandangnya terhadap teater menjadi lebih luas. Teater dalam kerangka pikiran Idham perlahan tumbuh menjadi ruang untuk bertemu, belajar, dan memahami bahwa kesenian selalu berhubungan dengan manusia serta lingkungan tempat ia tumbuh.

“Bagi saya, UKM Teater kampus merupakan sebuah gerbang. Apabila kita selamanya tumbuh disana, gerbang tersebut akan menjadi sempit dan akhirnya menghalangi generasi baru yang ingin tumbuh dan belajar” ujarnya.
Pada tahun 2013, gerbang tersebut mengantarkan Idham bersama kawan-kawannya untuk mendirikan sebuah Kelompok Teater Sandilara. Dalam ruang itu ia tak hanya belajar tentang pertunjukan yang ada di atas panggung, melainkan bagaimana merawat komunitas, menjaga semangat kolektif, membangun jejaring, dan terus mencari cara agar teater tetap memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat.


Menjemput penonton Teater Sandilara
Perjalanan Kelompok Teater Sandilara diawali dengan jalan yang sederhana sekaligus penuh risiko. Mereka melakukan pentas keliling dari kampung ke kampung, dengan biaya nol rupiah, menggunakan properti seadanya dan alat musik pinjaman seperti gamelan. Cara tersebut secara perlahan menggeser bayangan tentang bagaimana sebuah pertunjukan teater semestinya berlangsung.

Jika teater kerap dibayangkan hadir di gedung pertunjukan dengan lampu panggung, tiket, dan penonton yang duduk menyaksikan dari kejauhan, Sandilara justru membawa pertunjukan keluar dari batas-batas tersebut. Panggung tidak harus memiliki bentuk tertentu dan penonton tidak harus selalu datang melalui loket.

Sejak 2013, mereka melakukan pentas keliling secara acak ke berbagai wilayah, mulai dari Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Batang, hingga Ngawi. Dari perjalanan tersebut, hubungan dengan masyarakat perlahan tumbuh. Mahasiswa KKN kemudian mulai menghubungi Sandilara untuk mengisi kegiatan kesenian di wilayah pengabdian mereka.

Perjalanan keliling itu bukan sekadar persoalan memperluas wilayah pertunjukan. Ada cara pandang lain yang sedang dibangun Idham mengenai bagaimana sebuah kelompok kesenian seharusnya berhubungan dengan masyarakat. Ketika ada warga yang ingin bergabung dengan Sandilara, misalnya, Idham tidak serta-merta mengajaknya masuk menjadi anggota. Ia justru mengatakan,
“Saya sarankan jangan di Sandilara. Buat teater sendiri di kampungmu. Nanti Sandilara bantu secara pengetahuan.”

Sandilara tidak sedang berusaha menjadikan dirinya sebagai pusat dari seluruh aktivitas teater yang lahir dari perjalanan mereka. Sebaliknya, pengetahuan yang mereka miliki dianggap lebih berguna apabila dapat berpindah dan melahirkan ruang-ruang baru. Dengan cara tersebut, teater tidak berhenti sebagai pertunjukan yang selesai ketika pemain meninggalkan panggung. Ia menjadi pengetahuan yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, dari satu kelompok ke kelompok lain, bahkan dari satu kampung menuju kampung lainnya.

Menyemai Asa Teater Sandilara
Perjalanan tersebut kemudian menemukan bentuk baru pada 2025 ketika melalui Teater Sandilara, Idham membuka Sedarah Acting Studio, sebuah kelas akting yang menjadi ruang pendidikan dan kreativitas bagi anak-anak.
Kehadiran ruang belajar ini memperlihatkan bahwa setelah bertahun-tahun bergerak membawa teater menuju masyarakat, persoalan berikutnya bukan hanya bagaimana membuat pertunjukan tetap berlangsung, tetapi bagaimana pengetahuan tentang teater dapat diwariskan.

“Saya meyakini bahwa teater memiliki diemensi lain selain di panggung, yaitu dunia pendidikan. Secara tidak langsung, anak belajar untuk berani menjadi dirinya sendiri, tampil di atas panggung, dan lepas dari belenggu – belenggu ketakutan dalam interaksi sosial” ujar Idham.

Tercatat, telah berlangsung tiga kelas dengan jumlah peserta 30 anak yang mengikuti program. Hal ini menunjukan bahwa ruang berbasis pendidikan anak merupakan metode dalam menjemput generasi baru, sekaligus upaya untuk menjaga kebertahanan dunia teater di masa kini. Anak-anak yang datang mengikuti kelas tersebut mungkin belum mengetahui akan membawa pengalaman itu ke mana.

Mereka mungkin kelak menjadi aktor, mungkin juga tidak. Namun, proses mengenal panggung, membaca peran, mengolah tubuh, bekerja bersama, dan berhadapan dengan penonton memberikan pengalaman yang tidak hanya berhenti pada kemampuan tampil. Seperti yang disampaikan Idham, bahwa didalamnya terdapat proses belajar tentang keberanian, kerja kolektif, dan cara memahami orang lain melalui peran yang dimainkan.

Pada titik ini, perjalanan Idham bersama Sandilara dapat dibaca sebagai sebuah rangkaian yang tidak berdiri sendiri. Ia bermula dari pengalaman mengenal teater di bangku SMA, tumbuh dan belajar teater di ruang kampus, kemudian bergerak keluar membawa pertunjukan ke kampung-kampung, lalu berkembang menjadi upaya membangun ruang-ruang kesenian melalui distribusi pengetahuan, dan kini menemukan bentuk lain melalui pendidikan anak-anak.

Pertunjukan pada akhirnya akan selesai, panggung akan kembali kosong, dan lampu akan dimatikan. Kemudian yang menentukan apakah teater benar-benar mati atau tetap hidup adalah apa yang tertinggal setelah semua itu berakhir. Jika pengalaman, pengetahuan, dan keberanian untuk menciptakan ruang baru masih berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka teater belum benar-benar selesai. Ia hanya sedang mencari panggung berikutnya untuk kembali hidup.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top