Piala Dunia 2026 : Ribut-Ribut Geopolitik, Memoeri, Merayakan dan Gerbang Datang Pergi Gerbang Sepak Bola Dunia

Jago Nonton Bola

Ingatan ini terlempar di 2010, saat Piala Dunia untuk pertama kalinya digelar di Afrika. Laga dini hari nanti seperti ulangan dengan Meksiko sebagai tuan rumah menjamu Afrika Selatan. Tarian Tshabalala begitu melekat sampai sekarang. Ternyata perubahan tak terasa begitu melesat cepat dan semakin tertinggal saja ngikutin sepak bola ini. Berbagai konten berseliweran, banyak yang membahas tentang tarian terakhir CR7 atau Messi atau nama-nama lain yang memang beken. Edisi yang konon akan menjadi pamungkas bagi para super star dan gerbang awal untuk generasi baru sepak bola dunia.

48 negara ikut serta, tiga negara sebagai tuan rumah. Konon FIFA melakukan penyegaran supaya turnamen lebih seru dan gajul-gajulan lebih rame. Kenyataan yang ada, antusiasme pada Piala Dunia tidak sebagaimana di edisi sebelum-sebelumnya. Setidaknya itu yang saya rasakan sendiri. Tambahan slot peserta adalah sebuah upaya menjaga turnamen lebih intens dan seru, selaras dengan konsep Uncertainty of Outcoe Hypotesis, pertandingan akan lebih menarik ketika hasilnya sulit diprediksi. Ada kejutan dalam permainan 11 lawan 11, seperti edisi empat tahun lalu di Qatar, saat Arab Saudi membuat Argentina ambruk. Statistik dan ekspektasi bertekuk lutut di depan kenyataan. Barangkali FIFA ingin hal semacam itu di turnamen 2026 ini.

Tambahan peserta juga diharapkan FIFA sebagai daya tarik Piala Dunia yang sebenarnya tidak hanya berasal dari sepak bola. Dalam psikologi sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk mendefinisikan dirinya melalui kelompok yang didukung. Dalam konteks Piala Dunia, kelompok itu adalah negara yang ikut serta. Bendera, lagu kebangsaan, warna jersey, keyakinan politik, simbol-simbol nasional dan lain-lain menciptakan keterikatan emosional yang jauh melampaui permainan sepak bola itu sendiri. Seseorang mungkin tidak memahami seluruh taktik sepak bola, tapi tetap merasa gembira ketika negara yang didukungnya menang dan ikut sedih ketika negara jagoannya kalah, terlebih jika kadung pasang taruhan.  Akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya terkait hasil pertandingan semata, tapi juga identitas kolektif.

Belum lagi tentang Piala Dunia yang menjadi cerita bersama. Terasa hambar ketika sebuah turnamen tanpa narasi yang melingkupinya. Selalu saja ada tim kuda hitam atau pemain yang tiba-tiba moncer, favorit juara geblak di awal, perjalanan panjang menuju final, rivalitas dari luar lapangan yang ikut dibawa, dan semacamnya. Penonton disuguhi kisah, dipaksa terlibat secara pikiran dan emosional. Narrative Transportation berjalan, penonton larut dalam cerita yang ada dan merasa bagian dari cerita yang ada.

Semua itu akan dirasakan seluruh penonton Piala Dunia, tak terkecuali yang ada di Indonesia yang masih juga jago nonton bola, tanpa ikut serta dalam turnamen akbar kali ini, sama seperti sebelum-sebelumnya, kecuali di 1938 saat masih pakai Hindia Belanda. Meski jam siaran pertandingan tak akrab dengan jam Indonesia yang pagi kudu glidik, tapi kecanggihan internet dengan klak-klik tetap saja akan menyajikan apa yang ada di Piala Dunia 2026, di sela berita krisis yang ugal-ugalan tak ketulungan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top