
Foto: Darsakolektif / @rohmad._
Menjadi musisi partikelir atau pencinta musik di kabupaten penyangga seperti Sukoharjo dan wilayah lainnya yang menyokong solo sebagai “Kota” adalah perihal merawat keteguhan hati. Ketika panggung-panggung megah bermodal sponsor korporasi raksasa terpusat di kota-kota besar dengan harga tiket yang menguras dompet pekerja, anak muda di daerah kabupaten dipaksa memutar otak. Di tengah situasi ekonomi yang makin menantang serta minimnya ruang publik yang inklusif untuk berekspresi, skena akar rumput muncul sebagai jawaban dan sering kali harus menghidupi dirinya sendiri agar tidak mati suri.
Fakta inilah yang melatari Darsa Kolektif untuk konsisten mengaktivasi beberapa program seperti Keliling Kabupaten, yaitu salah satu program gigs dengan venue berpindah – pindah di seluruh Kecamatan wilayah Kabupaten Sukoharjo. Program tersebut dilaksanakan melalui pendanaan secara kolektif sebagai wadah untuk para seniman rupa dan pertunjukan mempersembahkan karya – karyanya. Mencoba untuk menggeser pasar “Kota” dalam ruang lingkup daerah yang berada di pinggiran.
Berangkat dari Sisa Saldo Tour dan Solidaritas Kepala ke Kepala
Seiring berjalannya waktu, band indie pop asal Lombok, The Dare, sedang singgah di Sukoharjo. Sesaat setelahnya, beberapa band lokal seperti The Suse, Sprayer, dan W3 (Wahana Warna Warni) baru saja menyelesaikan tour di Malang dan Kediri. Rangkaian peristiwa tersebut membuahkan siasat ide yang liar, pun juga terdapat beberapa kawan yang memiliki usaha mandiri. Melalui obrolan hangat di tongkrongan kelurahan, Abu Dian Permana dan Badrun mencetuskan aktivasi gigs bernama Talking Head.
Secara filosofis, nama ini dimaknai sebagai perjumpaan dari kepala ke kepala. Semangat saling tatap dan bertukar isi kepala itu pun dimanifestasikan ke dalam logo animasi ikonik yaitu seekor kucing sedang berhadapan dengan kepala kucing yang dipegang oleh tangannya sendiri. Berbeda dengan program Keliling Kabupaten, Talking Head edisi pertama hanya sekedar kegiatan dengan racangan yang sederhana dan lebih luwes untuk mempromosikan usaha kawan kawan guna mendukung pergerakan tur bersama sejumlah band—termasuk The Jeblogs dan Candles asal Kediri. Meski begitu, kompromi komersial ini tetap melewati filter ketat komunitas agar idealisme mereka tidak tergadaikan.
Sebentuk Upaya Mengurangi Rutinitas Kaku, Merawat Intimasi di Lereng Gunung
Alih-alih terjebak pada ambisi industri yang menuntut sebuah acara harus diadakan rutin setiap tahun, Talking Head memilih setia pada denyut keresahan dan keinginan kolektif anggapannya. Format kegiatannya pun selalu dinamis dan berpindah tempat guna mencari pengalaman ruang yang baru. Memasuki edisi kedua pada tahun 2023, arena pertunjukan justru digeser ke sebuah villa di kawasan Tawangmangu, Karanganyar.
Edisi kedua tersebut dikemas lebih intim dengan berkolaborasi bersama kolektif lokal setempat, serta turut menampilkan band seperti DozeClub. Hebatnya, ekosistem gotong royong ini begitu cair. Adian Permana mengenang bagaimana kuatnya rasa kepemilikan komunal saat itu, “Untuk Talking Head kedua, semua band teman-teman ditembusi, bahkan ada band yang tidak ikut main juga turut serta iuran. Kami pengen coba untuk membangun bahwa gigs bukan hanya milik Darsa Kolektif, namun milik teman-teman juga.” Komunitas ini berhasil membuktikan tesis penting, bahwa sebuah gigs bukanlah properti milik satu kelompok semata, melainkan ruang milik seluruh entitas yang menghidupinya.
Manifestasi 2026: Menghidupi Ekonomi Akar Rumput di UNIVET
Memasuki tahun 2026, Talking Head kembali hadir di UNIVET (Universitas Veteran Bangun Nusantara) Sukoharjo dan menjadi sebuah program yang diorganisir oleh Darsa Koletif. Kehadiran edisi ketiga ini merupakan respons langsung terhadap berbagai isu ekonomi dan keresahan sosial hari ini. Di tengah impitan ekonomi, Talking Head membuat inisiasi tiketing dengan harga yang sangat terjangkau. Manajemen finansial mereka disokong penuh lewat sistem pendanaan mandiri, di mana kontribusi teman-teman komunitas tidak melulu dinilai dengan rupiah. “Kolektifannya teman-teman tidak hanya iuran uang, namun juga barang atau tenaga, dan lainnya,” jelas Adian, menegaskan bahwa gotong royong di skena ini belum punah.
Lebih jauh lagi, kini program bukan hanya sekadar tempat hura-hura mendengarkan distorsi gitar. Format Talking Head menggabungkan pertunjukan musik dengan ruang diskusi kritis mengenai fenomena perkembangan musik serta topik relevan lainnya di Solo Raya. Guna memberikan pengalaman (experience) yang berbeda dan memecah kekakuan, panitia menyisipkan aktivasi menarik seperti permainan lotre hingga game interaktif di area acara.
Pada akhirnya, Talking Head memiliki cetak biru jangka panjang yang visioner untuk mengangkat ekosistem lokal. Adian menambahkan, “Harapannya ke depan Talking Head bisa menjadi suatu ruang untuk bisa mewadahi kawan-kawan yang punya usaha mandiri seperti sablon, jualan es, aksesoris, merch, dan lainnya, lalu dapat menjadi besar seperti festival besar lainnya.” Dari sisa saldo tur di pinggiran Sukoharjo, mereka sedang menanam benih sebuah festival mandiri yang terbukti konsisten merawat akarnya dari tahun ke tahun.