
Foto – (Kota Owatari/Merentang Project)
“Mata saya merah dan debu dan pikiran buruk berkecamuk dalam Sidang Sastra, di Kedai Lahan Subur, Mojosongo, Kamis malam itu.” – Kesaksian Beri Hanna, tanggapan terkait sidang yang memojokkan dia
21 Mei 2026.
Sebuah sidang sastra tentang bahasa, keberpihakan, AI, dan kegagapan menjadi penulis.
“Apabila setiap kata adalah pertanyaan, setiap darinya pula punya jawaban. Akan tetapi, apabila setiap kata adalah jawaban, setiap darinya pula tidak punya pertanyaan.”
Sidang Sastra malam itu berubah menjadi perdebatan panjang:
tentang bahasa,
kebenaran,
sastra,
ekonomi,
dan keberpihakan.
Bahasa bisa membuat seseorang tampak benar sekaligus keliru.
Tanpa konteks, keraguan menjadi bayang-bayang paling mencekam.
AI ikut masuk ke meja diskusi:
membongkar biografi,
membaca pola karya,
hingga menghubungkan tulisan saya dengan Putu Wijaya, Hamsad Rangkuti, dan Alejandro Jodorowsky.
“Saya memecah diri saya dari pembaca dengan apa yang saya tuliskan.”
Sidang Sastra kemudian menyoal posisi saya sebagai penulis:
apakah saya menulis untuk diri sendiri?
terlalu keras kepala untuk dimengerti?
atau hanya sibuk mengejar eksplorasi estetika?
Di tengah debat tentang politik bahasa,
saya mulai melihat sastra seperti komplotan koboy:
portal ke portal,
festival ke festival,
lingkaran ke lingkaran.
Dan saya?
Goyah mencari posisi.
“Make money is art,” kata Andy Warhol.
Mungkin benar:
bahkan sastra pun tak pernah benar-benar lepas dari uang.
“Barangkali, bahasa memang memiliki kekuatan dan dasar keberpihakan seseorang. Maka, dengan begitu, cinta bisa berarti menyayangi sekaligus membunuh.”
Sidang Sastra ditutup dengan ribut-ribut soal keberpihakan sastra, penguasa narasi, dan siapa yang sebenarnya diwakili oleh bahasa.
Sebagai penulis,
saya pulang dengan kepala lebih penuh daripada sebelumnya.




Foto – (Kota Owatari/Merentang Project)