
foto : https://pin.it/6aRPFpj9S
Bolehlah sekiranya kita bertanya “mengapa kita lelah, terasing, atau kesepian?” dan itu adalah masalah. Lalu, di solo cukuplah pergi ke Jalan Slamet Riyadi. Tinggal pilih tempat yang sekiranya menarik, duduk minum kopi, melihat orang lain melakukan hal yang sama, dan menikmati suasana itu. Sekarang masalahnya bukan diselesaikan, melainkan dialihkan menjadi pengalaman yang bisa dibeli.
Jalan Slamet Riyadi di Solo memperlihatkan fenomena yang menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, jalan yang semula terutama merupakan jalur mobilitas berkembang menjadi ruang produksi gaya hidup. Sore hingga malam, aktivitas di sepanjang jalan ini semakin beragam. Coffee shop dan street coffee menjadi titik berkumpul, sementara city walk, trotoar, dan ruang di sekitar bangunan komersial digunakan untuk duduk, berbincang, menikmati waktu luang, atau sekadar bertemu. Ia menjadi ruang tempat sebagian kehidupan sosial berlangsung.
Lebih jauh, saya akan mulai dengan satu kalimat yang populer melalui influencer Bryan Barcelona, “Psikolog itu mahal, makanya Tuhan menciptakan Jalan Slamet Riyadi”, terpampang di salah satu coffee shop dan menghadap langsung ke Jalan Slamet Riyadi. Ia menarik bukan semata sebagai quote atau lelucon, melainkan karena menangkap sebuah gejala. Yaitu kebutuhan sosial dan emosional manusia yang semakin dimediasi oleh konsumsi.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa orang suka ngopi, melainkan mengapa ruang untuk menjalani kehidupan sosial semakin banyak hadir melalui komoditas.
Ruang kota, ruang konsumsi
Perubahan Jalan Slamet Riyadi menunjukkan bahwa ruang kota selalu dibentuk oleh cara masyarakat menggunakan, mengatur, dan memberinya makna. Ketika aktivitas komersial berkembang di sepanjangnya, ruang tersebut tidak hanya mengalami perubahan fungsi ekonomi, tetapi juga perubahan dalam cara manusia mengalami kota.
Pada 2026, penggunaan city walk di sekitar coffee shop di Jalan Slamet Riyadi bahkan menjadi perhatian DPRD Solo, sementara Satpol PP melakukan penertiban terhadap sejumlah aktivitas usaha yang menggunakan ruang pedestrian. Persoalan ini tampak sebagai persoalan ketertiban ruang publik. Namun di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendasar: batas antara ruang publik dan ruang komersial semakin blur.
Coffee shop semakin menjadi topik yang menarik. Ia tidak sekedar tempat menjual kopi tetapi ia dapat memproduksi sebuah lingkungan yaitu suasana, kenyamanan, estetika, pelayanan, musik, pencahayaan, koneksi internet, jugakemungkinan untuk bertemu orang lain. Yang dibeli konsumen bukan semata-mata seporsi minuman, melainkan pengalaman yang dibangun di sekelilingnya.
Kopi menjadi pintu masuk bagi komodifikasi yang lebih luas.
Sebab kapitalisme kontemporer tidak lagi cukup menjual barang. Ia mengubah pengalaman menjadi nilai ekonomi. Atmosfer dapat dijual, kenyamanan dapat dijual, Identitas dapat dijual. Bahkan kesan autentik dan sederhana dapat dijual.
Karena itu, yang berubah bukan hanya apa yang kita konsumsi, tetapi cara kita menjalani pengalaman sosial melalui konsumsi.
Kelelahan dan Kapitalisme produksi kebutuhan
Namun jika ketenangan dapat dijual, kita perlu bertanya mengapa ketenangan menjadi sesuatu yang begitu dicari.
Maka kritik Byung-Chul Han terhadap masyarakat prestasi agaknya menjadi menarik. Dalam The Burnout Society, Han menunjukkan bahwa kekuasaan kontemporer bekerja bukan terutama melalui larangan, tetapi melalui dorongan untuk terus mengoptimalkan diri. Individu didorong untuk menjadi produktif, kreatif, sehat, sukses, dan kompetitif.
Kekuasaan menjadi semakin efektif ketika tuntutannya berubah menjadi keinginan personal.
Kita tidak lagi harus dipaksa bekerja lebih keras. Kita memaksa diri sendiri karena merasa belum cukup berhasil. Diri berubah menjadi proyek yang harus terus diperbaiki.
Konsekuensinya adalah kelelahan ekstrim.
Tetapi sialnya kelelahan tersebut kemudian dipahami sebagai persoalan individu. Mark Fisher menyebutnya privatisation of stress, tekanan yang memiliki akar sosial dipindahkan ke dalam ranah personal. Alih-alih mempertanyakan struktur kehidupan yang menghasilkan kelelahan, individu didorong untuk memperbaiki kapasitas dirinya dalam menghadapi kelelahan tersebut.
Maka lahirlah berbagai bentuk industri pemulihan: self-care, wellness, healing, self-development, perjalanan, olahraga, terapi, hingga ruang-ruang yang menjual ketenangan.
Munculah sebuah paradoks, sistem yang menghasilkan kebutuhan akan pemulihan juga dapat menjual pemulihan tersebut sebagai komoditas.
Bukan berarti setiap bentuk self-care adalah manipulasi pasar. Persoalannya menjadi kian mendasar bahwa kebutuhan untuk beristirahat, merasa nyaman, memperoleh pengalaman, dan memulihkan diri semakin mudah diterjemahkan ke dalam bahasa konsumsi.
Eva Illouz menyebut pertautan antara kehidupan emosional dan ekonomi tersebut sebagai emotional capitalism. Emosi tidak lagi sepenuhnya berada di luar mekanisme pasar. Ia menjadi sesuatu yang dapat dikelola, dibentuk, dan dimediasi melalui barang serta jasa.
Kapitalisme tidak perlu menciptakan kebutuhan manusia untuk merasa nyaman. Ia cukup mengorganisasi cara kebutuhan tersebut dipenuhi. Konsumsi sama dengan produksi atas konsumsi itu sendiri.
Tetapi kebutuhan saja tidak cukup menjelaskan mengapa satu tempat menjadi ramai sementara tempat lain tidak.
Sebab kapitalisme tidak hanya bekerja melalui kebutuhan. Ia juga bekerja melalui produksi selera, yang menurut Bourdieu dibentuk oleh pengalaman sosial dan posisi kita dalam struktur masyarakat. Dalam konteks ini, proses tersebut semakin dipercepat oleh media sosial.
Sebuah tempat menjadi populer karena tampil dalam unggahan. Popularitas menarik pengunjung. Pengunjung menghasilkan konten. Konten memperkuat popularitas.
Harga untuk sebuah kehidupan sosial
Karena itu, budaya nongkrong tidak cukup dibaca sebagai persoalan konsumsi kopi.
Nongkrong adalah praktik sosial. Ia memungkinkan manusia membangun relasi, komunitas, identitas, dan pengalaman bersama. Tetapi praktik tersebut semakin sering berlangsung dalam ruang yang diatur oleh logika komersial.
Jika ruang publik menyediakan tempat bagi kehidupan sosial tanpa mensyaratkan konsumsi, maka seseorang dapat hadir terutama sebagai warga. Tetapi ketika ruang sosial semakin banyak bergantung pada ruang komersial, kehadiran seseorang secara perlahan juga memperoleh dimensi ekonomi.Kita memang tetap bebas memilih. Namun kebebasan tersebut berlangsung di dalam ruang pilihan yang telah dibentuk oleh pasar.
Inilah bentuk kekuasaan kapitalisme kontemporer yang lebih”tingkat lanjut”. Ia tidak harus melarang manusia berkumpul. Ia tidak perlu memerintahkan manusia untuk membeli. Ia cukup membuat bentuk kehidupan tertentu lebih mudah dialami melalui konsumsi.
Komodifikasi pengalaman hidup
Kita membeli tempat untuk memperoleh suasana, membeli suasana untuk memperoleh pengalaman, lalu mengonsumsi pengalaman untuk membentuk identitas. Komoditas, selera, pengalaman, dan identitas akhirnya berputar dalam satu lingkaran.
“Psikolog itu mahal, makanya Tuhan menciptakan Jalan Slamet Riyadi”— yang erat dengan sosok influencer Bryan Barcelona terdengar lucu dan menggelitik sekaligus patut dicurigai. Kelucuannya justru menyembunyikan cara kerja kapitalisme yang cukup sempurna yaitu persoalan psikologis diterjemahkan menjadi kebutuhan konsumsi.
Kita tidak perlu bertanya mengapa kita lelah, terasing, atau kesepian. Cukup pergi ke Jalan Slamet Riyadi. Duduk, minum kopi, bertemu orang, menikmati suasana. Masalahnya bukan diselesaikan, melainkan dialihkan menjadi pengalaman yang bisa dibeli.
Ironisnya, kalimat itu seolah membebaskan kita dari biaya psikolog, tetapi sekaligus memperkenalkan bentuk terapi yang lain, terapi melalui konsumsi. Kita membayar untuk mendapatkan suasana yang membuat kita merasa baik, lalu menganggap perasaan itu sebagai jawaban.
Maka pertanyaannya bukan lagi “besok ngopi di mana?”
Tetapi mengapa untuk sekadar merasa hidup, kita semakin harus membeli tempat untuk merasakannya?
Daftar Pustaka
Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgement of taste. Harvard University Press.
Fisher, M. (2011). The privatisation of stress. Soundings, 48, 123–133.
Han, B.-C. (2015). The burnout society. Stanford University Press.
Illouz, E. (2007). Cold intimacies: The making of emotional capitalism. Polity Press.