
Foto: YT demajorTV/FSTVLST LIVE at Synchronize Fest 2016
Mendengar DOKSTRAL Dan Upaya Memahami FSTVLST
Ada kegamangan tertentu ketika harus mengatakan bahwa Paradoks Diametral adalah album terbaik FSTVLST. Bukan karena ia album yang buruk, kenyataanya justru sebaliknya. Dokstral, begitu album ini kemudian akrab dipanggil, mungkin adalah salah satu karya FSTVLST terasa komplit dan matang baik secara lirik maupun estetika musik yang disuguhkan dan terangkai dalam sebuah album musik. Tetapi bagi saya, predikat “terbaik” jika berbicara FSTVLST masih milik Hits Kitsch (2014). Sementara Dokstral menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia terdengar seperti karya dari orang yang sudah cukup lama berjalan melewati api, lalu menoleh ke belakang untuk melihat apa yang tersisa dari nyala baranya.
Perihal pengalaman mendengar Hits Kitsch hampir selalu terasa ingin menggerakkan tubuh; hentakan drum, riff gitar, permainan bass, dan vokalnya membuat sebagian besar lagu seperti terus mendorong pendengar untuk ikut bergerak, mengangguk, menghentak, atau meneriakkan bagian-bagian tertentu bersama-sama. Bagi saya, musik Hits Kitsch tidak sekadar menjadi wadah bagi kegelisahan yang disampaikan lirik, tetapi membuat kegelisahan itu terasa secara fisik. Ada sesuatu yang mentah, langsung, dan tidak sabar di dalam cara lagu-lagunya bergerak; seolah gagasan yang sudah terlalu penuh mencari jalan keluar melalui tubuh sebelum sempat dirumuskan menjadi pikiran.
Saya pertama-tama mengenal FSTVLST dari pengalaman semacam itu. Musik yang membuat lirik tidak sekadar didengar, tetapi diteriakkan kembali. Ada lagu yang terasa seperti milik kerumunan. Hits Kitsch bekerja dengan cara yang sangat fisik. Ia tidak hanya menyampaikan kritik; ia membuat kritik itu terasa sebagai energi di dalam tubuh.
Hits Kitsch menunjuk sesuatu di luar dirinya misalnya ; ketidakadilan, perubahan zaman, kekuasaan, kerusakan, dan manusia yang terseret di dalamnya. Ada semacam keyakinan bahwa dunia sedang bermasalah dan musik dapat menjadi cara untuk menunjukkannya.
Justru di situlah kekuatan sekaligus keterbatasan Hits Kitsch. Ia masih cukup percaya pada batas antara yang benar dan yang salah, yang sadar dan yang tidak sadar, “kita” dan “mereka”. Subjeknya masih berdiri di satu sisi sambil menunjuk dunia di sisi lainnya. Tetapi saya tidak menganggap itu sebagai kelemahan yang buruk. Barangkali karena belum selesai itulah Hits Kitsch terasa begitu hidup. Ia belum berdamai dengan dunia, dan karena itu ia masih memiliki bara yang besar.
Lima tahun kemudian, FSTVLST II (2020) datang seperti sebuah lorong. Ia tidak mengulang Hits Kitsch, tetapi juga belum sampai pada wilayah Dokstral seperti hari ini. Ada energi lama yang masih tersisa, tetapi arah pandangnya perlahan berubah. Jika Hits Kitsch membuat tubuh ingin bergerak dan mulut ingin berteriak, FSTVLST II mulai memberi jarak bagi pendengar untuk memperhatikan apa yang sebenarnya sedang dikatakan.
Di sinilah saya menempatkan album kedua itu. Ia adalah ruang antara menunjuk dunia dan mulai mempertanyakan diri. Bukan sekadar jembatan dalam kronologi, tetapi jembatan dalam cara mendengar.
Kemudian Paradoks Diametral datang pada 2026 dengan dua belas lagu dan membawa FSTVLST ke wilayah bunyi yang lebih berlapis. Saya tidak cukup kompeten untuk mengurai seluruh teknis aransemen musiknya, tetapi sebagai pendengar, perubahan itu terasa cukup jelas. Ada synth, warna new wave, sentuhan elektronik, bahkan nuansa disko yang membuat musik mereka terdengar lebih luas. Gitar tidak lagi selalu menjadi pusat gravitasi. Ada lapisan-lapisan bunyi yang membuat lagu terasa memiliki ruang yang begitu luas dan menunggu dieksplorasi.
Perubahan ini penting karena membuat lirik ternyata tidak harus selalu bekerja dengan cara menghantam dan ajaibnya ia masih akrab seperti FSTVLST yang saya dengar dikerumunan dulu. Ada lagu yang terasa seperti bergerak maju, tetapi ada pula yang memberi kesan melayang, mengulang, atau membiarkan suasana bekerja lebih lama daripada kalimatnya. Bagi saya, Dokstral bukan hanya album yang lebih ramai secara bunyi, tetapi album yang cukup mempertimbangkan banyak hal selain ledakan energi. Mereka tampaknya tidak lagi terlalu sibuk memenangkan argumen.
Dalam “Jefferson”, misalnya, muncul lirik yang ternyata terdapat tanda tanya (?): “hidup yang berarti?
bukan sekadar tak mati?
mati yang berarti?
mesti yang terakhir kali?”
Ia tidak memberikan petunjuk tentang siapa atau apa yang salah dan yang benar. Ia justru berupa pertanyaan, jika banyak lagu kemudian memiliki pengikut dan lirik bekerja sebagai dogma, Jafferson bekerja dengan cara yang berbeda ia justru bertanya. Seolah menunjukkan penolakan terhadap pengkultusan pada lagu-lagu mereka. Ini jadi satu sisi kesadaran FSTVLST yang kemudian cara mereka melihat dunia banyak mempengaruhi pendengar.

Foto: YT demajorTV/FSTVLST LIVE at Synchronize Fest 2016
Dari Masa Lampau
Barangkali kedewasaan Dokstral juga dapat dibaca melalui hubungan album ini dengan sejarah FSTVLST dan Jenny. Saya tidak ingin mengatakan bahwa Dokstral adalah kelanjutan langsung dari “Manifesto Postmodernisme” milik Jenny. Hubungan itu terlalu sederhana jika disebut sebagai garis lurus. Tetapi ada semacam benih kesadaran yang terasa beresonansi.
“Manifesto Postmodernisme” berbicara tentang dunia ketika kebaruan seolah telah habis, semua kata pernah diucapkan, semua bentuk pernah digunakan, sehingga yang tersisa adalah memilih yang menguap di udara dan mengucapkannya kembali. Kesadaran semacam itu terasa menemukan bentuk yang lebih konkret dalam Dokstral.
Lihat saja “Tri Esa (Ibid., Op. Cit., Loc. Cit.)”. Bahkan judulnya sudah berbicara melalui bahasa kutipan dan catatan kaki. Ia tidak berusaha menghapus masa lalu. Ia justru mengambil kembali potongan-potongan yang pernah ada dalam perjalanan Jenny dan FSTVLST, lalu menyusunnya menjadi sesuatu yang baru. Dokstral seperti sedang menyusun ulang ingatan tentang diri mereka sendiri.
Karena itu, sifat postmodern album ini menurut saya tidak berhenti pada lirik. Ia juga hadir dalam cara album tersebut diproduksi dan dialami. Visualnya menggunakan warna-warna yang sangat terang dan saling bertabrakan, bahkan kadang membuat teks tidak nyaman dibaca. Batas antara desain, promosi, permainan, dan karya menjadi kabur. Bahkan sebelum Dokstral menjadi dua belas lagu yang bisa kita putar sesuka hati di layanan streaming, FSTVLST sudah membuat pengalaman di sekelilingnya: kampanye halaman 31, grup WhatsApp pendengar, logo baru yang diperkenalkan melalui Roblox, hingga tur album dalam format hearing session. Album itu terlebih dahulu hadir sebagai peristiwa bersama, baru kemudian menjadi benda digital. Dengan kata lain, FSTVLST tidak hanya membuat album. Mereka jugab membuat situasi di sekitar album.
Dokstral sepertinya juga jadi percontohan bahwa masa lalu dapat dikutip, dipelesetkan, dibongkar, lalu dipasang kembali dengan cara yang berbeda bahasa kerenya mungkin “dekonstruksi”. Mungkin karena itu pula album ini tidak terdengar seperti usaha untuk menjadi FSTVLST yang baru. Ia terdengar seperti FSTVLST yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri yang juga bagian dari dunia tak terpisah.
Tetapi saya tetap memilih Hits Kitsch sebagai album terbaik FSTVLST. Sebab “terbaik” dan “paling matang” adalah dua perkara yang berbeda. Ada sesuatu dalam karya yang belum selesai yang kadang justru lebih sulit digantikan oleh kematangan. Hits Kitsch memiliki luka yang masih terbuka. Ia masih marah, masih menunjuk, masih ingin mengatakan sesuatu. Jika harus diringkas, perjalanan ketiganya mungkin sederhana: Hits Kitsch adalah api, FSTVLST II adalah lorong yang dilewati api itu, dan Dokstral adalah titik menoleh dan melihat apa yang tersisa.
Penulis: Okki Munanda